I. Hidup Adalah Proses
Hidup Adalah Proses
Kadang kita bertanya dalam hati dan menyalahkan Tuhan, "apa yg telah
saya lakukan sampai saya harus mengalami ini semua ?" atau "kenapa
Tuhan membiarkan ini semua terjadi pada saya ?" Here is a wonderful
explanation...
Seorang anak memberitahu ibunya kalau segala sesuatu tidak berjalan
seperti yang dia harapkan. Dia mendapatkan nilai jelek dalam raport,
putus dengan pacarnya, dan sahabat terbaiknya pindah ke luar kota.
Saat itu ibunya sedang membuat kue, dan menawarkan apakah anaknya mau
mencicipinya, dengan senang hati dia berkata, "Tentu saja, I love your
cake."
"Nih, cicipi mentega ini," kata Ibunya menawarkan."Yaiks," ujar
anaknya. "Bagaimana dgn telur mentah ?" "You're kidding me, Mom." "Mau
coba tepung terigu atau baking soda ?" "Mom, semua itu
menjijikkan!!."
Lalu Ibunya menjawab, "ya, semua itu memang kelihatannya tidak enak
jika dilihat satu per satu. Tapi jika dicampur jadi satu melalui satu
proses yang benar, akan menjadi kue yang enak."
Tuhan bekerja dengan cara yang sama. Seringkali kita bertanya kenapa
Dia membiarkan kita melalui masa-masa yang sulit dan tidak
menyenangkan. Tapi Tuhan tahu jika Dia membiarkan semuanya terjadi
satu per satu sesuai dengan rancanganNya, segala sesuatunya kan menjadi
sempurna tepat pada waktunya.
Kita hanya perlu percaya proses ini diperlukan untuk menyempurnakan
hidup kita. Tuhan teramat sangat mencintai kita. Dia mengirimkan bunga
setiap musim semi, sinar matahari setiap pagi. Setiap saat kita ingin
bicara, Dia akan mendengarkan. Dia ada setiap saat kita
membutuhkanNya, Dia ada di setiap tempat, dan Dia memilih untuk
berdiam di hati kita.
II. Sepatu Raja
Sepatu Raja
Seorang raja berjalan kaki melihat-lihat keadaan ibu kota. Di jalan
depan istana, kakinya terluka karena menginjak batu tajam. “Jalan di
depan istana ini sangat buruk. Aku harus memperbaikinya,” begitu
pikirnya. Maka, Sang Raja segera merumuskan proyek untuk memperbaiki
jalan di depan istana itu. Ia ingin jalan itu dilapisi dengan kulit
sapi terbaik, agar siapapun yang melewatinya tidak terluka. Persiapan
mengumpulkan sapi-sapi di seluruh negeri dilakukan.
Di tengah kesibukan luar biasa itu, seorang pertapa menghadap raja dan
berkata, “Wahai Paduka. Mengapa Paduka mengorbankan sekian banyak
kulit sapi untuk melapisi jalan tersebut, padahal yang Paduka perlukan
hanya dua potong kulit sapi untuk sepatu yang berfungsi melapisi
telapak kaki Paduka?”
Ah, cerita klasik di atas mengingatkanku betapa seringnya aku menuntut
dunia agar berubah sesuai dengan keinginanku, demi kenyamananku dan
harapanku. Padahal, dengan sedikit perubahan pada diriku sendiri, aku
sebenarnya sudah bisa mengatasi itu semua.
Aku ingat betul, bagaimana dulu aku sering berusaha membuat
orang-orang di sekitarku agar mengagumi – atau setidaknya suka dengan
aku. Aku berusaha keras untuk itu karena aku yakin semua itu bisa
mendatangkan kesuksesan. Tetapi ada sebuah titik nadir yang membuat
aku sadar, bahwa aku tidak bisa memaksa setiap orang untuk menyukai
aku.
Kenapa aku harus berjuang untuk hal-hal yang sebenarnya tidak dapat aku rubah?
Bukankah lebih baik menata diri dan komposisi tubuh ini agar selalu
tumbuh dinamis – seiring dengan keadaan dan perubahan di sekitarku?
Seperti sulur-sulur tumbuhan rambat yang merayap mengikuti bentuk
tembok.. tetapi mampu menghancurkannya.. Seperti lumut yang tumbuh
naik turun mengikuti tekstur batu, tetapi sangat berpotensi untuk
membuatnya rapuh.. Seperti awan yang selalu bergerak mengikuti angin,
tetapi mampu menjadi hujan dan cuaca yang justru memutarbalikkan arah
angin itu sendiri.. semoga.. ^^
III. Anak Buta
Anak Buta
Berpikirlah dari sudut pandang yang berbeda..
Seorang anak buta duduk bersila di sebuah tangga pintu masuk pada
sebuah supermarket. Yup, dia adalah pengemis yang mengharapkan belas
kasihan dari para pengunjung yang berlalu lalang di depannya. Sebuah
kaleng bekas berdiri tegak di depan anak itu dengan hanya beberapa
keping uang receh di dalamnya, sedangkan kedua tangannya memegang
sebuah papan yang bertuliskan “Saya buta, kasihanilah saya.”
Ada Seorang pria yang kebetulan lewat di depan anak kecil itu. Ia
merogoh sakunya, mengeluarkan beberapa keping uang receh, lalu
memasukkannya ke dalam kaleng anak itu. Sejenak, pria itu memandang
dan memperhatikan tulisan yang terpampang pada papan. Seperti sedang
memikirkan sesuatu, dahinya mulai bergerak-gerak.
Lalu pria itu meminta papan yang dibawa anak itu, membaliknya, dan
menuliskan beberapa kata di atasnya. Sambil tersenyum, pria itu
kemudian mengembalikan papan tersebut, lalu pergi meninggalkannya.
Sepeninggal pria itu, uang recehan pengunjung supermarket mulai
mengalir lebih deras ke dalam kaleng anak itu. Kurang dari satu jam,
kaleng anak itu sudah hampir penuh. Sebuah rejeki yang luar biasa bagi
anak itu.
Beberapa waktu kemudian pria itu kembali menemui si anak lalu
menyapanya. Si anak berterima kasih kepada pria itu, lalu menanyakan
apa yang ditulis sang pria di papan miliknya. Pria itu menjawab, “Saya
menulis, ‘Hari yang sangat indah, tetapi saya tidak bisa melihatnya.’
Saya hanya ingin mengutarakan betapa beruntungnya orang masih bisa
melihat. Saya tidak ingin pengunjung memberikan uangnya hanya sekedar
kasihan sama kamu. Saya ingin mereka memberi atas dasar terima kasih
karena telah diingatkan untuk selalu bersyukur.”
Pria itu melanjutkan kata-katanya, “Selain untuk menambah
penghasilanmu, saya ingin memberi pemahaman bahwa ketika hidup
memberimu 100 alasan untuk menangis, tunjukkanlah bahwa masih ada 1000
alasan untuk tersenyum.”
IV. Jawaban Elegan dari Seorang Tukang Bakso
Jawaban Elegan dari Seorang Tukang Bakso
Di suatu senja sepulang kantor, saya masih berkesempatan untuk ngurus
tanaman di depan rumah, sambil memperhatikan beberapa anak asuh yang
sedang belajar menggambar peta, juga mewarnai. Hujan rintik rintik
selalu menyertai di setiap sore di musim hujan ini.
Di kala tangan sedikit berlumuran tanah kotor,...terdengar suara
tek... tekk... tek... suara tukang bakso dorong lewat. Sambil menyeka
keringat..., ku hentikan tukang bakso itu dan memesan beberapa mangkok
bakso setelah menanyakan anak - anak, siapa yang mau bakso ?
"Mauuuuuuuuu. ...", secara serempak dan kompak anak - anak asuhku menjawab.
Selesai makan bakso, lalu saya membayarnya. ...
Ada satu hal yang menggelitik fikiranku selama ini ketika saya
membayarnya, si tukang bakso memisahkan uang yang diterimanya. Yang
satu disimpan dilaci, yang satu ke dompet, yang lainnya ke kaleng bekas
kue semacam kencleng. Lalu aku bertanya atas rasa penasaranku selama
ini.
"Mang kalo boleh tahu, kenapa uang - uang itu Emang
pisahkan?Barangkali ada tujuan ?" "Iya pak, Emang sudah memisahkan uang
ini selama jadi tukang bakso yang sudah berlangsung hampir 17 tahun.
Tujuannya sederhana saja, Emang hanya ingin memisahkan mana yang
menjadi hak Emang, mana yang menjadi hak orang lain / tempat ibadah,dan
mana yang menjadi hak cita-cita penyempurnaan iman ".
"Maksudnya.. ...?", saya melanjutkan bertanya.
"Iya Pak, kan agama dan Tuhan menganjurkan kita agar bisa berbagi
dengan sesama. Emang membagi 3, dengan pembagian sebagai berikut :
- Uang yang masuk ke dompet, artinya untuk memenuhi keperluan hidup sehari - hari Emang dan keluarga.
- Uang yang masuk ke laci, artinya untuk infaq/sedekah, atau untuk
melaksanakan ibadah Qurban. Dan alhamdulillah selama 17 tahun menjadi
tukang bakso, Emang selalu ikut qurban seekor kambing, meskipun
kambingnya yang ukuran sedang saja.
- Uang yang masuk ke kencleng, karena emang ingin menyempurnakan
agama yang Emang pegang yaitu Islam. Islam mewajibkan kepada umatnya
yang mampu, untuk melaksanakan ibadah haji. Ibadah haji ini tentu
butuh biaya yang besar. Maka Emang berdiskusi dengan istri dan istri
menyetujui bahwa di setiap penghasilan harian hasil jualan bakso ini,
Emang harus menyisihkan sebagian penghasilan sebagai tabungan haji.
Dan insya Allah selama 17 tahun menabung, sekitar 2 tahun lagi Emang
dan istri akan melaksanakan ibadah haji.
Hatiku sangat...... .....sangat tersentuh mendengar jawaban itu.
Sungguh sebuah jawaban sederhana yang sangat mulia. Bahkan mungkin
kita yang memiliki nasib sedikit lebih baik dari si emang tukang bakso
tersebut, belum tentu memiliki fikiran dan rencana indah dalam hidup
seperti itu. Dan seringkali berlindung di balik tidak mampu atau
belumada rejeki.
Terus saya melanjutkan sedikit pertanyaan, sebagai berikut : "Iya
memang bagus...,tapi kan ibadah haji itu hanya diwajibkan bagi yang
mampu, termasuk memiliki kemampuan dalam biaya....".
Ia menjawab, " Itulah sebabnya Pak. Emang justru malu kalau bicara
soal mampu atau tidak mampu ini. Karena definisi mampu bukan hak pak
RT ataupak RW, bukan hak pak Camat ataupun MUI.
Definisi "mampu" adalah sebuah definisi dimana kita diberi kebebasan
untuk mendefinisikannya sendiri. Kalau kita mendefinisikan diri
sendiri sebagai orang tidak mampu, maka mungkin selamanya kita akan
menjadi manusia tidak mampu. Sebaliknya kalau kita mendefinisikan diri
sendiri,"mampu", maka Insya Allah dengan segala kekuasaan dan
kewenangannya Allah akan memberi kemampuan pada kita".
"Masya Allah..., sebuah jawaban elegan dari seorang tukang bakso".
Berterimakasihlah pada orang-orang kecil yang memberikan teladan dan
menebarkan harapan perbaikan hidup pada kita. Mereka tiang penyangga
yang menahan langit dari keruntuhan.
Mereka peredup terik mentari kehidupan yang ada kalanya terasa panas membakar......
V. Kotak Sepatu
Kotak Sepatu
Henry dan Marta sudah menikah lebih dari 40 tahun. Tentu, sepasang
manusia itu kini telah renta. Umur Henry 72 tahun dan umur Marta 68
tahun. Ketika hidup berumah tangga, keduanya tidak pernah menyimpan
rahasia. Kecuali, sebuah kotak sepatu yang di simpan Marta di lemari
pakaiannya. Marta berpesan kepada suaminya untuk tidak sekali-kali
membukanya atau bahkan menanyakan tentang barang itu kepadanya.
Suatu ketika, Marta sakit keras. Berbagai upaya telah dilakukan oleh
Henry dan anak-anak mereka untuk menyembuhkan Marta. Tetapi, tak satu
pun yang berhasil. Dokter sudah angkat tangan dengan penyakit Marta.
Mengingat tuanya usia Marta, tidak mungkin bagi dokter untuk melakukan
tindakan-tindakan medis seperti yang biasa dilakukan pada penderita
biasa.
Saat berbaring di tempat tidur, Marta berkata lirih pada suaminya,
“Tolong ambilkan kotak sepatu di lemari pakaianku.” Henry segera
beranjak dari tempat duduknya dan mengambil kotak sepatu itu, lalu
memberikannya pada istrinya. Rupanya Marta sadar, bahwa ini adalah
saat yang tepat untuk membuka rahasia di dalam kotak sepatu itu.
“Bukalah.” Marta berkata lagi pada suaminya. Perlahan-lahan Henry
membuka penutup kotak itu. Henry mendapati ada dua boneka rajut dan
setumpuk uang senilai hampir sepuluh juta rupiah. Henry lalu
menanyakan ada apa dengan dua boneka rajut dan uang itu pada istrinya.
“Ketika kita menikah, ada sebuah rahasia perkawinan yang dituturkan
Nenekku.” Marta bercerita, “Nenekku berpesan bahwa jangan sekali-kali
membentak atau berteriak pada suamimu. Nenek bilang jika suatu saat
saya marah padamu, saya harus tetap diam dan merajut sebuah boneka.”
Henry hanya bisa terdiam saat mendengar cerita istrinya. Dan, air mata
pun mulai bercucuran di pipinya.
“Sayang, lalu bagaimana dengan uang sepuluh juta ini?” Tanya Henry
pada Marta, “Darimana engkau mendapatkan sebanyak ini?” Isteri
menyahut, “Oh, itu adalah uang hasil penjualan dari boneka-boneka yang
pernah saya buat.”
VI. Nasihat Rasulullah saw yang Membuat Kita Optimis
Nasihat Rasulullah saw yang Membuat Kita Optimis
Telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Yazid telah menceritakan
kepada kami Kahmasy bin Al Hasan dari Al Hajjaj bin Al Furafishah, Abu
Abdurrahman yaitu Abdullah bin Yazid, berkata; dan aku telah
melihatnya dijalan lalu ia memberi salam kepadaku, saat itu aku masih
kecil, ia merafa'kan (riwayat) kepada Ibnu Abbas atau menyandarkannya
kepada Ibnu Abbas. Ahmad bin Hambal berkata; dan telah menceritakan
kepadaku Hammam bin Yahya Abu Abdullah sahabat Al Bashri, ia
menyandarkannya kepada Ibnu Abbas.
Dan telah menceritakan kepadaku Abdullah bin Lahi'ah dan Nafi' bin
Yazid Al Misriyyan dari Qais bin AlHajjaj dari Hanasy Ash Shan'ani
dari Ibnu Abbas, dan aku tidak hafal (detail) hadits sebagian mereka
dari sebagian lainnya, bahwa ia berkata;
Aku dibonceng oleh Nabi shallallahu 'alaihi wasallam lalu beliau bersabda:
"Wahai anak." Atau Beliau mengatakan: "Wahai anak
kecil, maukah kamu aku ajari beberapa kalimat yang Allah akan
memberimu manfaat." Aku menjawab;"Ya."
Lalu beliau bersabda: "
- Jagalah Allah niscaya Dia akan menjagamu,
- Jagalah Allah niscaya engkau mendapatiNya di hadapanmu.
- Ingatlah Dia di waktu lapang niscaya Dia akan ingat kepadamu di waktu sempit.
- Jika engkau meminta maka mintalah kepada Allah, dan jika engkau memohon pertolongan maka mohonlah pertolongan kepada Allah.
- Telah kering pena dengan apa yang telah terjadi. Seandainya
seluruh makhluk hendak memberi manfaat kepadamu dengan sesuatu yang
Allah tidak menetapkan padamu, niscaya mereka tidak akan mampu
memberikan manfaat kepadamu. Dan seandainya mereka hendak mencelakakan
dirimu dengan sesuatu yang Allah tidak menetapkan padamu, niscaya
mereka tidak akan mampu mencelakakanmu.
- Dan ketahuilah bahwa di dalam kesabaran terhadap hal yang engkau benci terdapat banyak kebaikan.
- Bahwa pertolongan itu (datang) setelah kesabaran, dan
- kelapangan itu (datang) setelah kesempitan serta bahwa kemudahan itu (datang) setelah kesulitan."
(HR Ahmad No 2666)
Catatan: tidak ada perubahan isi hadist, hanya diubah tampilannya agar mudah dibaca.
Sumber :
http://styagreennotes.blogspot.com/2010_08_01_archive.html