Jumat, 23 Agustus 2013

#salam itu membahagiakan :)

Pagi itu sedang meyusuri jalan sebelah kampus yang penuh tumpukan sampah, mau balik ke kontrakan setelah main di lab tercinta. Tampak beberapa mahasiswa yang kuliah pagi berjalan dengan arah berlawanan, tampak pula beberapa ibu tua dan seorang bapak yang sedang mengais rezeki di tumpukan sampah kala itu. Tetap berjalan dan menunduk, ada 
banyak pikiran di kepala mulai dari cinTA sampai sebuah agenda yang harus kusiapkan.

Mungkin ada yang salah kala itu, ya mungkin diri ini lupa bersyukur, tak cukupkah dengan pemandangan di tempat sampah tadi yang seharusnya jadi acuan untuk terus berucap “Alhamdulillah ya Allah”.

Langkah pun berlanjut dan masih tertunduk wajah ini, namun tiba-tiba pikiran pecah ketika terdengar suara “Assalamualaikum kakak”, kuangkat pandangan tak kudapati siapa-siapa, lalu berbalik kemudian kuarahkan pandangan ke bawah menuju asal suara. Kudapati perempuan kecil putih, berpakaian kuning cerah yang kuperkirakan umurnya sekitar 4 tahun yang sedang bermain dengan sepeda roda tiganya. Pandanganku tertuju ke wajahnya dan iapun masih melihat ke arahku, sambil tersenyum ia mengulangi salamnya “Assalamualaikum kakak” kemudian kujawab “Waalaikumsalam dek, pintarnya”, beberapa detik masih dalam posisi yang sama melihat si bocah kecil melanjutkan mainnya.

Perasaan berbeda tiba-tiba muncul, yang tadinya murung menjadi lebih semangat dan berbahagia. Tersenyum sendiri, melihat si bocah berbahagia lepas melanjutkan mainnya, cukup ditemani sepeda roda tiga tua serta pasir timbunan bangunan. Terfikir kenapa harus murung?, bukankah yang lain juga punya banyak masalah?, bukankah hidup ini memang takkan lepas dari masalah hingga ke liang lahat? Tinggal bagaimana menyakapinya.

Lanjut berjalan menuju kontrakan lengkap dengan senyum yang kubawa hasil pemberian si adik kecil :)
Bahagia itu sederhana, berbahagialah dengan membahagiakan orang lain.
"Kalian tidak akan masuk surga sehingga kalian beriman, dan kalian tidak beriman sehingga kalian saling mencintai. Tidakkah kalian mau aku tunjukkan sesuatu yang apabila kalian kerjakan akan menjadikan kalian saling mencintai? Yaitu sebarkanlah salam di antara kalian." (HR. Muslim)

http://muhnurakbar.tumblr.com/post/39216565515/salam-itu-membahagiakan

Nak, Ibu Ingin Bicara Soal Milih-milih Perempuan…

Rasanya hampir tidak dapat dipercaya sekarang ibu menulis soal ini kepada dua anak laki laki yang sangat membanggakan hati. Ibu tidak bisa lebih bersyukur atau meminta kepada Tuhan memperoleh putra yang lebih baik daripada kalian.  Kalian bertiga adalah anugerah terbesar dan terindah yang Tuhan berikan kepada ibu.  I could never ask for more…
Membesarkan kalian adalah masa masa terindah dalam hidupku, sekalipun itu harus ditukar dengan prospek perkembangan karir, ibu bahagia memilih menjadi ibu rumah tangga dan menyaksikan kalian tumbuh.
Pada akhirnya ibu harus bicara soal jodoh, mengingat saat ini  kalian sudah cukup pusing dikejar kejar cewek yang tentu saja mengagumi kualitas yang ada dalam diri kalian. You were brought up with lots of love and values  from your parents. Never forget that.
Rasanya ibu tidak harus  panjang lebar mengulang kembali bagaimana menjadi laki laki sejati . Satu kalimat sederhana mampu mengungkapkan petuah panjang soal itu  :Contohilah ayahmu.
Soal cewek, ibu dapat memahami rasa heran maupun kebingungan kalian. Wanita memang tidak mudah dipahami. Sampai detik ini juga ibu kadang sukar memahami diri sendiri. Itu bagian misteri perempuan yang justru menambah keindahannya. Satu pemahaman umum sederhana adalah wanita ingin disayangi dan dilindungi.
Soal selera secara fisik, ibu tidak perlu komen panjang lebar. Masing masing kalian memiliki selera berbeda, dan itu sah sah saja… Selera itu adalah hak prerogatif yang tidak bisa diganggu gugat. Yang pasti secara jujur ibu harus mengatakan bahwa inner beauty adalah hal terpenting, tapi inner beauty tanpa dibungkus dengan kulit luar yang apik akan menjadi kurang maksimal karena kalian sebagai laki laki sejati tidak mau merasa malu membawa istri dan mengenalkannya kepada orang lain, terutama sahabat dan keluarga. Kalian berdua sudah cukup dewasa untuk mengartikan ini…
Dari dulu ibu tidak pernah rewel soal berteman. Yang selalu ibu ingatkan adalah harus selalu baik dan sopan kepada orang lain. Berkawanlah sebanyak mungkin. Jangan memilih milih teman karena status sosialnya maupun dilihat dari uangnya. Tidak semua yang kaya itu baik, tidak semua yang miskin juga baik. Uang hanyalah sarana dan alat membeli sesuatu yang dibutuhkan dan diinginkan. Uang itu perlu, oleh karenanya aturlah uang dengan baik, dan jangan pernah membiarkan uang mengatur kalian, apalagi sampai bisa membeli hati nurani.
Entahlah kalau ibu ibu yang lain… tapi ketika menyangkut soal memilih jodoh, ibu harus minta maaf lebih dulu. Jujur ibu akan sanget bawel soal ini.  Ibu tidak pernah mungkin bisa benar benar objektif menilai wanita yang akan menjadi istri kalian, tapi sedapat mungkin ibu janji akan bersikap adil dan fair sebatas kemampuan ibu. You two know that I am a fair person. Ibu benci ketidak adilan.
Meskipun sejujurnya ibu sudah berulang kali mengatakan… rasanya tidak ada wanita yang cukup pantas mendapatkan kalian. Ini  adalah  ungkapan kebanggaan seorang ibu kepada anak laki lakinya. Overdosis ? mungkin memang kedengaran berlebihan…but I can’t help it. Kelak istri kalian juga akan merasakan hal yang sama jika kalian memiliki anak laki laki…
Memilih istri itu mungkin kurang lebih mirip dengan memilih mobil… Ada begitu banyak ragam jenis mobil dengan spesifikasi yang berbeda. Kenali diri kalian.. ketahui apa yang menjadi selera kalian.  Satu hal prinsip yang paling berbeda antara istri dan mobil adalah : Istri itu abadi. Tidak bisa ditukar tambah kapan saja kalian mau. When you get married, you married for life.
Jangan pernah menikah hanya karena merasa sudah umurnya harus menikah.Menikahlah karena kalian merasa pasti bahwa dengan dirinya kalian akan saling membahagiakan selamanya.
Ini yang bisa ibu katakan mengenai petunjuk umum secara garis besar ketika itu menyangkut calon istri…
-  Look for the right chemistry. Kalian akan tahu itu ketika bertemu dengan yang cocok. Kalian akan menyadari bahwa rasanya masuk akal kenapa selama ini yang lain kurang menarik, dan ada sesuatu yang rasanya kurang sebelum bertemu dengannya.
Ada pesona tersendiri yang dibawanya yang memang melekat dalam dirinya tanpa dibuat buat.  Ibu pikir dulu ayahmu jatuh cinta dengan ibu karena diantara teman teman calon dokternya yang lembut feminin, tiba tiba nongol seorang wanita yang lain dari yang lain. Yang bisa memanjat pohon dan berantem dengan sangat baik….  Rupanya pria kalem yang tenang itu tergeletak tak berdaya dengan seorang gadis blak blakanyang kalau makan tidak pernah malu malu, dan bisa menyatakan pendapatnya dengan jujur,  sekalipun harus berbeda… Siapa yang bisa menyangka ? Tanya ayahmu soal chemistry… ibu tidak pernah bosan mendengar cerita klasik bagaimana dia jatuh cinta dengan ibu…
- Nilai kebaikannya bukan semata dari cara dia memperlakukan kalian, tapi bagaimana dia memperlakukan orang lain, terutama mereka yang lebih tidak beruntung dari dirinya.
Tentu saja wanita akan baik kepada pria yang dicintainya.  Kebaikan sejati itu dinilai dari bagaimana dia bersikap dan memperlakukan orang lain. Apakah dia adil dan jujur ? Apakah dia penuh belas kasih ?  Bagaimana dia menghormati orang tua dan memperlakukan teman temannya ? Dengan siapa dia bergaul ?. Bagaimana gaya hidupnya ? Apakah dia bisa tersenyum sama lebarnya ketika diajak makan di restaurant mahal  ataupun di warung Tegal yang murah meriah ?.
Perlu waktu untuk menilai ini semua. Tapi kalau soal jodoh, selalu ibu katakan, jangan merasa diburu buru.  Take your time… give time enough time.
- Pilihlah wanita yang mampu menertawakan dirinya sendiri. Ini kemampuan hebat yang sangat perlu. Hidup ini akan membawa kalian kepada banyak masalah dan lika liku… Tapi tidak ada yang lebih menyenangkan daripada  hidup bersama dengan wanita yang mampu membuat kalian tertawa.
Pilihlah wanita yang bisa tertawa ketika kalian mengatakan “kartu ATM-ku tertelan lagi….
Selera humor yang baik itu bukan menertawakan orang lain, tapi lebih kepada bagaimana dia bisa menertawakan dirinya sendiri dan melihat sisi lucu dan baik dari segala sesuatu.  Pada akhirnya cinta yang bergelora itu akan stabil… kupu kupu yang terbang tak tentu arah dalam perut kalian ketika pertama jatuh cinta, akan hinggap dengan tenang dan menetap, digantikan dengan rasa nyaman yang  menyenangkan…, tapi perekat cinta yang awet adalah tertawa bersama menjalani kehidupan rumah tangga kalian.
- Menikahlah dengan wanita yang memiliki prinsip hidup yang baik dan menghormati prinsip prinsipnya. Dia tidak harus selalu setuju dengan kalian. Buat apa menikah dengan orang yang selalu mengatakan ya ? When two person always agree, one is not necessary…
Pilihlah wanita yang mampu menyikapi perbedaan pendapat, mampu menghargai perbedaan selera dan berkompromi secara fair…
Menikahlah dengan wanita yang mampu bicara jujur demi kebaikan.
- Ini yang terakahir, tapi bukan berarti tidak penting…. Menikahlah dengan wanita yang menghormati kalian. Ibu akan menjadi orang yang paling naik pitam jika kalian dikasari. Terutama di depan umum. Never .. ever let a woman be rude to you.
Ibu bisa mengatakan ini karena ibu mendidik kalian untuk selalu menghormati dan menghargai wanita.  Cinta tanpa penghargaan bagaikan mobil tanpa setir, tidak berguna.
Well, you know your mother.. ini dulu yang bisa ibu katakan. Mudah mudahan tidak ada lagi yang perlu ibu tambahkan  kecuali bahwa I love you and will always be proud of you , my sons.
For Russell and Reinhart, with unlimited love from your Mum.)
Source : 

http://muda.kompasiana.com/2013/07/19/nak-ibu-ingin-bicara-soal-milih-milih-perempuan-578085.html

Selasa, 30 Juli 2013

Hadiah dari Sang Dunia

Islamedia - Dunia dikejar, harta dikejar, akhirnya tiada selesainya. Kebutuhan , apalagi keinginan, bila terus dituruti tidak akan ada habisnya. Terpenuhi yang ini, muncul yang lain. Terkejar keinginan yang satu, kepingin lagi mengejar yang lain. 
Begitu seterusnya, hingga kita sendiri tidak bisa menikmati apa yang dulu berusaha mati-matian mengejarnya. Berenang tanpa tepian.

Disuatu tempat, tersebutlah Pak Dahlan yang sedang terbaring lemah. Dunia yang dia kumpulkan susah payah, hanya bisa memberikan tempat tidur seukuran dia saja. Tidak bisa dia gapai ketika dia sakit. Tidak ada yang bisa dia nikmati ketika ia tidak sehat seperti sekarang ini. Dia memiliki kulkas empat pintu, tapi satu pun tidak ada yang terbuka untuknya.
Dimeja makan rumahnya terhidang paling sedikit 3 macam buah-buahan, nasi lengkap dengan tujuh macam lauk, mulai dari tempe goring panas, tahu cina goreng, sayur asem, gabus kering, ayam goreng, otak spai yang dipepes, sambal goreng, plus lalap-lalapan.
Semuanya menggoda bila kita sehat, dan semuanya siap santap. Tapi apa yang Pak Dahlan makan ? Tidak ada, hanya bubur. Itupun bubur yang disaring terlebih dahulu. Bahkan kini, ketika ia masuk rumah sakit, hanya ciaran infuse yang bisa masuk ketubuhnya.
Pak Dahlan juga susah payah membangun rumah super mewah Indah, dengan keramik import, kamar mandi sekelas hotel, perabotan mewah dan mahal kiriman kolega dari singapura. Belum lagi deretan mobilnya, dari mulai kelas keluaran Jepang hingga merk-merk keluaran Eropa. Tapi ya karena sedang tidak bisa bangun, sepeda motor Honda milik Parmin pembantunya pun tidak bisa ia naiki.

Dunia yang ia kejar, harta yang ia kumpulkan tak mau dekat-dekat dengan dia yang sedang berbadan sakit.

Sakiiit, hati pak Dahlan. Di dunia saja mereka tidak mau membantu, apalagi kelak di akhirat!.

Pada cerita dunia yang lain, ada Pak Jacoeb yang sedang termangu di ruangan sempit. Terbayang jabatannya yang sudah diisi oleh orang lain. Terbayang kemewahannya yang ‘susah payah’ ia garap. Terbayang wajah anak dan istrinya. Semuanya tinggal bayangan, karena semuanya tidak ada disekitarnya.
Ia sedang menjalani vonis hukuman penjara dunia, 2 tahun penjara dipotong masa tahanan 2 bulan.
Pak Jacoeb yang gagah ketika menjabat, Pak Jacoeb yang jago ‘men-create’ proyek, kini bagaikan gedebong pisang; bernyawa tapi tak berjiwa, berjiwa tapi tak bertenaga, dan tidur beralaskan kasur tipis seadanya.
Ah, dunia yang dulu ia sangat ia kejar, sangat ia dambakan, sehingga ia berani berbuat nekat untuk menjamahnya, kini malah tak mau dekat dengan dia. Dunia, yang dulu begitu ia dambakan, jabatan dan posisi yang dulu begitu ia agung-agungkan, kini mencampakkannya begitu saja, dan malah memberikan kehinaan.
Bila Pak Dahlan
Dijauhi dunia
Lantaran badannya yang sakit,
Pak Jacoeb dijauhi dunia
Lantaran hatinya yang sakit
Cerita Pak Dahlan dan Pak Jacoeb di atas mengajarkan kita pada beberapa hal, yang pertama adalah bahwa dunia tidak usah didewa-dewakan begitu rupa, sehingga kita lupa bahwa masih manusia, dan akan kembali pada Sang Pencipta.

Yang kedua, dunia yang kita kejar, dunia yang kita buru, tidak akan banyak berbuat bagi kita. Boro-boro di akhirat, di dunia pun tidak bisa ia berbuat banyak bagi kita. Terutama bila badan dan hati kita sakit.
Yang ketiga, mengingatkan kita akan ketidakabadian dan kefanaan harta. Bahkan yang ketiga ini bisa terjadi justru ketika dunia sedang tergenggam; tidak menunggu kita meninggal.
Jadi untuk apa kita berbuat total untuk dunia. Biasa sajalah. Dunia itu tidak mau direpotkan oleh kita. Dunia punya sifat cenderung susah diatur, apalagi oleh orang-orang pelit dan serakah. Dunia mempunyai kecenderungan sulit dikendalikan, apalagi oleh orang-orang yang zhalim terhadap Tuhannya.
Maka untuk mereka yang miskin tidak usah bersedih, dan untuk mereka yang kaya atau yang berkecukupan tidak usah sombong. Semuanya sama, bila tidak kita yang meninggalkan dunia, maka pilihan lainnya adalah dunia yang meninggalkan kita. Salah satu dari keduanya pasti akan terjadi didalam kehidupan kita sebagai manusia.
Terakhir, ketika manusia berhenti bernafas, dunia hanya memberikan tanah untuk pekuburan, batu nisan untuk menandai pekuburan, dan kain kafan untuk membungkus badan.
Hanya itu hadiah kenang-kenangan dari dunia, karena dunia diciptakan dalam kondisi sifat yang pelit. Dunia dipastikan tidak akan mengurusi kita atau menaruh perhatian kepada kita kalau sudah keputusan dari Sang Pemberi Keputusan, bahwa dia yang meninggalkan kita atau kita yang meninggalkan dia. Dunia ditakdirkan hanya mengurus kepentingan dirinya saja.
Dunia diibaratkan sebuah kebun, yang disiram air hujan kemudian lama-lama kering dan hancur. Sedangkan Allah, Pemiliknya, tak pernah hancur.
“ketahuilah, sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah permainan, kelalaian, perhiasan, dan berbangga-bangga antara kamu dan berlomba banyak harta dan anak. Seperti air hujan yang tanamannya mengagumkan petani, kemudian tanamannya menjadi kering dan kamu lihat warnanya mongering, kemudian hancur. Dan di akhirat ada azab Allah yang keras dan ada pula ampunan dari Allah dan keridhaan-Nya. Dan tiadalah kehidupan dunia melainkan kesenangan yang menipu.” (QS. Al hadid:20)
 
Demikianlah tulisan ini tiada maksud membuat anda alergi menjadi orang kaya. Bukan!.
Maksudnya sekedar memiliki kearifan dalam memandang dunia. Sayangi dunia dengan tidak melupakan Pemiliknya, jadikan dunia sebagai bekal menuju akhirat, sayangi dunia dengan tidak melalaikan sang Pemberi. Dan sisakan sebahagian dunia untuk amal sholeh di akhirat nanti. Wassalam.[Daqu Magz]

Minggu, 16 Desember 2012

Bersyukurlah


Bersyukurlah
Hari ini sebelum kamu mengatakan
kata-kata yang tidak baik, pikirkan
tentang seseorang yang tidak dapat
berbicara sama sekali. 

Bersyukurlah
Sebelum kamu mengeluh tentang rasa
dari makananmu, pikirkan tentang
seseorang yang tidak punya apapun
untuk dimakan.

Bersyukurlah
Sebelum anda mengeluh tidak punya
apa-apa, pikirkan tentang seseorang
yang meminta-minta di jalanan.

Bersyukurlah
Sebelum kamu mengeluh bahwa kamu
buruk, pikirkan tentang seseorang yang
berada pada tingkat yang terburuk di
dalam hidupnya.

Bersyukurlah
Sebelum kamu mengeluh tentang
suami atau istrimu, pikirkan tentang
seseorang yang memohon kepada Allah
untuk diberikan teman hidup.
Bersyukurlah
Hari ini sebelum kamu mengeluh
tentang hidupmu, pikirkan tentang
seseorang yang meninggal terlalu cepat.

Bersyukurlah
Sebelum kamu mengeluh tentang
anak-anakmu, pikirkan tentang
seseorang yang sangat ingin mempunyai
anak tetapi dirinya mandul.

Bersyukurlah
Sebelum kamu mengeluh tentang
rumahmu yang kotor karena
pembantumu tidak mengerjakan
tugasnya, pikirkan tentang orang-orang
yang tinggal dijalanan.

Bersyukurlah
Sebelum kamu mengeluh tentang
jauhnya kamu telah menyetir, pikirkan
tentang seseorang yang menempuh jarak
yang sama dengan berjalan.

Bersyukurlah
Dan disaat kamu lelah dan mengeluh
tentang pekerjaanmu, pikirkan tentang
pengangguran, orang-orang cacat yang
berharap mereka mempunyai pekerjaan
seperti anda.

Bersyukurlah!

Hari ini sebelum kamu mengatakan
kata-kata yang tidak baik, pikirkan
tentang seseorang yang tidak dapat
berbicara sama sekali.

Bersyukurlah
Sebelum kamu mengeluh tentang rasa
dari makananmu, pikirkan tentang
seseorang yang tidak punya apapun
untuk dimakan.

Bersyukurlah
Sebelum anda mengeluh tidak punya
apa-apa, pikirkan tentang seseorang
 yang meminta-minta di jalanan.

Bersyukurlah
Sebelum kamu mengeluh bahwa kamu
buruk, pikirkan tentang seseorang yang
berada pada tingkat yang terburuk di
dalam hidupnya.

Bersyukurlah
Sebelum kamu mengeluh tentang
suami atau istrimu, pikirkan tentang
seseorang yang memohon kepada Allah
untuk diberikan teman hidup.
Bersyukurlah
Hari ini sebelum kamu mengeluh
tentang hidupmu, pikirkan tentang
seseorang yang meninggal terlalu cepat.

Bersyukurlah
Sebelum kamu mengeluh tentang
anak-anakmu, pikirkan tentang
seseorang yang sangat ingin mempunyai
anak tetapi dirinya mandul.

Bersyukurlah
Sebelum kamu mengeluh tentang
rumahmu yang kotor karena
pembantumu tidak mengerjakan
tugasnya, pikirkan tentang orang-orang
yang tinggal dijalanan.

Bersyukurlah
Sebelum kamu mengeluh tentang
jauhnya kamu telah menyetir, pikirkan
tentang seseorang yang menempuh jarak
yang sama dengan berjalan.

Bersyukurlah
Dan disaat kamu lelah dan mengeluh
tentang pekerjaanmu, pikirkan tentang
pengangguran, orang-orang cacat yang
berharap mereka mempunyai pekerjaan
seperti anda.

Kamis, 08 November 2012

Sedekah Penjual Telur

Assalamu'alaikum Warrahmatullahi Wbarakatuh..
Sudah setahun lebih, setiap hari saya kedatangan seorang “tamu” penjual telur ayam kampung. Kadang-kadang ia datang bersama dengan anak bungsunya,kadang-kadang dengan cucunya. Namun lebih sering ia datang sendiri.

Begitupun,kadang-kadang ia datang pagi hari, namun tak jarang ia datang di sore hari setelah telur dagangannya habis terjual. Jangan bayangankan ia membawa puluhan lusin telur. Karena tubuhnya cukup renta dimakan oleh kemiskinan dan usia yang hampir 60 tahun,ia hanya mampu membawa 2-3 lusin telur. Ia menjual 2 ribu rupiah pertelur. Bisa dihitung pendapatannya jika seluruh telur yang dibawanya habis terjual. Oya, jangan lupa kurangi modal belinya yah.

Kedatangannya setiap hari ke rumah bukan karena ia ingin menawarankan dagangannya. Namun, karena “status” saya sebagai bendahara pembangunan mesjid di komplek kami.
Setiap hari Ibu Penjual Telur menitipkan uang untuk sumbangan pembangunan mesjid. Ketika disarankan untuk memasukkan ke kotak amal di mesjid saja,
“Malu Bu, kalau keliatan orang. Saya cuma mampu nyumbang 5000. Saya titip ke Ibu saja ya” Jawabnya. Memang kotak sumbangan mesjid tersebut terbuat dari kaca, sehingga siapapun bisa melihat jumlah uang yang “dicemplung”kan ke dalam kotak tersebut.

Maka tiap hari Ibu tersebut bertamu ke rumah. Beberapa kali datang hingga 2-3 kali , namun tidak juga ketemu saya. Menitip ke “orang rumah”pun ia tidak mau. Lagi-lagi alasannya malu jika ketahuan orang lain. Sehingga kami sepakati jika ia datang dan tidak bertemu dengan saya dirumah, maka uang sumbangan ia simpan didalam keranjang sepeda anak saya (yang diparkir di carport) lalu ditutupi kertas koran.
Ritual sayapun jika bepergian dan sampai dirumah sudah malam, maka saya selalu menyempatkan mengecek “isi” keranjang sepeda tersebut. Dan selalu saya menemukan uang 5000 rupiah.

Setahun lebih pembangun mesjid berjalan, sekarang mesjid yang megah telah berdiri dengan sempurna. Lantai dan dindingnya mengkilat oleh marmer. Dilengkapi beberapa kipas angin besar sebangai pendingin udara.
Ba'da Subuh sebelum syukuran selesainya pembangunan mesjid, saya melihat Ibu Penjual Telur menangis tersedu-sedu dipelataran masjid.
“Bu, senang ya. Alhamdulillah, akhirnya selesai juga pembangunan mesjid ini. Insyaa Allah pahala Ibu mengalir selama mesjid ini berdiri”
“Aamiiinnn...” jawabnya. Namun sedu sedannya tidak juga berhenti.
“Jangan nangis dong Bu, Ibu ngga sakit’kan?” Tanya saya, risih juga menemani orang yang terus menangis.
“Saya seneng mesjid ini udah jadi Bu. Tapi saya sedih, saya tidak bisa lagi membersihkan uang yang saya dapet tiap hari.”

“Tetangga –tetangga saya hidupnya pada enak. Kerja kantoran atau kerja di pabrik. Jadi saya sedekah ke mana kalau ngga ke mesjid “ lanjutnya.

Subhanallah, penghasilannya tidak seberapa. Namun, ia sadaqahkan sebagian keuntungannya berjualan telur karena ia menyadari pentingnya membersihkan hartanya.


Wassalamu'alaikum warrahmatullahi wabarakatuh,
Semoga bisa jadi inspirasi
Terima kasih


Sumber dari: Ibu Rinny Ermiyanti (Anggota KPMI)

Minggu, 16 September 2012

KESEDERHANAAN NABI MUHAMMAD SAW

Ketika Islam telah memiliki pengaruh yang sedemikian kuat dan disegani, dan ketika para raja-raja di Romawi bergelimang harta, maka Rasulullah masih saja tidur beralaskan tikar di rumahnya yang sederhana. Kalau ada pakaian yang koyak, Rasulullah menambalnya sendiri, tidak menyuruh isterinya. Beliau juga memerah sendiri susu kambing, untuk keperluan keluarga maupun untuk dijual.

Setiap kali pulang ke rumah, bila dilihat tiada makanan yang siap untuk dimakan, sambil tersenyum baginda menyingsing lengan bajunya untuk membantu isterinya di dapur. Sayidatina ‘Aisyah menceritakan: ”Kalau Nabi berada di rumah, beliau selalu membantu urusan rumah tangga.”
Jika mendengar adzan, beliau cepat-cepat berangkat ke masjid, dan cepat-cepat pulang kembali sesudah selesai sholat. Pernah baginda pulang pada waktu pagi. Tentulah baginda amat lapar waktu itu. Tetapi dilihatnya tiada apa pun yang ada untuk sarapan. Yang mentah pun tidak ada karena Sayidatina ‘Aisyah belum ke pasar. Maka Nabi bertanya, “Belum ada sarapan ya Khumaira?” (Khumaira adalah panggilan mesra untuk Sayidatina ‘Aisyah yang berarti ‘Wahai yang kemerah-merahan’). Aisyah menjawab dengan agak serba salah, “Belum ada apa-apa wahai Rasulullah.” Rasulullah lantas berkata, ”Kalau begitu aku puasa saja hari ini.” tanpa sedikit tergambar rasa kesal di wajahnya. Ini sesuai dengan sabda beliau, “sebaik-baik lelaki adalah yang paling baik dan lemah lembut terhadap isterinya.” Prihatin, sabar dan tawadhu’nya baginda SAW sebagai kepala keluarga.

Pada suatu ketika baginda menjadi imam solat. Dilihat oleh para sahabat, pergerakan baginda antara satu rukun ke satu rukun yang lain amat sukar sekali. Dan mereka mendengar bunyi menggerutup seolah-olah sendi-sendi pada tubuh baginda yang mulia itu bergeser antara satu sama lain. Sayidina Umar yang tidak tahan melihat keadaan baginda itu langsung bertanya setelah selesai sholat :

“Ya Rasulullah, kami melihat seolah-olah tuan menanggung penderitaan yang amat berat, tuan sakitkah ya Rasulullah?”

“Tidak, ya Umar. Alhamdulillah, aku sehat dan segar”

“Ya Rasulullah… mengapa setiap kali tuan menggerakkan tubuh, kami mendengar seolah-olah sendi bergesekan di tubuh tuan? Kami yakin engkau sedang sakit…” desak Umar penuh cemas.

Akhirnya Rasulullah mengangkat jubahnya. Para sahabat amat terkejut. Perut baginda yang kempis, kelihatan dililiti sehelai kain yang berisi batu kerikil, buat menahan rasa lapar. Batu-batu kecil itulah yang menimbulkan bunyi-bunyi halus setiap kali bergeraknya tubuh baginda.

“Ya Rasulullah! Adakah bila tuan menyatakan lapar dan tidak punya makanan, kami tidak tidak boleh menyediakan untukmu ya Rosulullah ?”
Lalu baginda menjawab dengan lembut:

”Tidak para sahabatku. Aku tahu, apa pun akan engkau korbankan demi Rasulmu. Tetapi apakah akan aku jawab di hadapan ALLAH nanti, apabila aku sebagai pemimpin, menjadi beban kepada umatnya?” “Biarlah kelaparan ini sebagai hadiah ALLAH buatku, agar umatku kelak tidak ada yang kelaparan di dunia ini lebih-lebih lagi tiada yang kelaparan di Akhirat kelak.”

Baginda Rasulullah pernah tanpa rasa canggung sedikitpun makan di sebelah seorang tua yang penuh kudis, miskin dan kotor. Seolah-olah anugerah kemuliaan dari Allah tidak dijadikan sebab untuk merasa lebih dari yang lain, ketika di depan umum maupun dalam keseorangan.

Ketika pintu Syurga telah terbuka, seluas-luasnya untuk baginda, baginda masih saja berdiri di waktu-waktu sepi malam hari, terus-menerus beribadah, hingga pernah baginda terjatuh, lantaran kakinya sudah bengkak-bengkak. Fisiknya sudah tidak mampu menanggung kemauan jiwanya yang tinggi. Hingga ditanya oleh Sayidatina ‘Aisyah:

“Ya Rasulullah, bukankah engkau telah dijamin Syurga? Mengapa engkau masih bersusah payah begini?”

Jawab baginda dengan lunak,

“Ya ‘Aisyah, bukankah aku ini hanyalah seorang hamba? Sesungguhnya aku ingin menjadi hamba-Nya yang bersyukur.”

Ahmad mengeluarkan dengan isnad yang shahih, dari Ibnu Abbas Radhiyallahu Anhuma, dia berkata, “Umar bin Al-Khaththab ra. bercerita kepadaku,

“Aku pernah memasuki rumah Rasulullah Shallailahu Alaihi wa Sallam, yang saat itu beliau sedang berbaring di atas selembar tikar. Setelah aku duduk di dekat beliau, aku baru tahu bahwa beliau juga menggelar kain mantelnya di atas tikar, dan tidak ada sesuatu yang lain, Tikar itu telah menimbulkan bekas guratan di lambung beliau. Aku juga melihat di salah satu pojok rumah beliau ada satu takar gandum. Di dinding tergantung selembar kulit yang sudah disamak. Melihat kesederhanaan ini kedua mataku meneteskan air mata.

“Mengapa engkau menangis wahai Ibnul-Khaththab?” tanya beliau “Wahai Nabi Allah, bagaimana aku tidak menangis jika melihat gurat-gurat tikar yang membekas di lambung engkau itu dan lemari yang hanya diisi barang itu saja? Padahal Kisra dan Kaisar hidup di antara buah-buahan dan sungai yang mengalir. Engkau adalah Nabi Allah dan orang pilihan-Nya, sementara lemari engkau hanya seperti itu.

“Wahai Ibnul-Khaththab, apakah engkau tidak ridha jika kita mendapatkan akhirat, sedangkan mereka hanya mendapatkan dunia? ”

Sahabat…., Begitulah dunia dimata Junjungan Kita SAW…
Bagaimana dunia di sisi kita ?

Yaa Robb, jadikan Kami lebih mencintai akhirat di banding dunia..
Sungguh berat mamang mentauladani Rosulalloh, akan tetapi kita wajib memproses diri dan berusaha secara maksimal untuk mengcopy paste Beliau kendati hasilnya tidak 100% karena Allah tidak semata menilai keberhasilan kita tapi proses itulah yang senantiasa dicatat.

Salaam ’alaika ya Rosuulullah


Semoga bisa jadi inspirasi
Terima kasih

Rabu, 05 September 2012

LARUTAN PENYEGAR HATI

Aku tak ingin hidup miskin. Aku hanya ingin memilih selalu hidup sederhana, ingin menjadi orang biasa. Agar waktu tidak terlalu banyak tersita dunia karena..Aku hanya ingin sibuk untuk memperbaiki keyakinanku kepada janji-Nya Allah, Oh Bukannya aku tak ingin kaya, aku hanya merawat hatiku agar tidak termakan virus kekikiran yang menggerogoti jiwa,bukannya ti...
dak mau meminjam modal usaha, aku hanya ingin diriku penuh menyandarkan kehidupanku kepada ajaran-Nya. Duhai sobat...Aku malu pada Rasul yang hanya tidur di atas tikar kasar tiap harinya, sementara di rumahku tersedia kasur spring bed yang kadang terlalu memanjakan penggunanya sehingga terlambat sholat berjamaah, dan malas bangun

Aku malu pada Syekh Ali Ghuraisyah, yang hanya menjadikan krak botol minuman yang ditutup sehelai kain lusuh untuk meja dan kursi tamunya. Sementara di rumahku ada beberapa kursi, meskipun kuno dan bukan sofa, yang cukup enak diduduki.

Aku malu kepada Umar Bin Khattab menaklukan imperium kerajaan adi daya Romawi dan Persia sedangkan ia tidur beralaskan pelepah kurma

Aku malu kepada Abdurrahman Bin Auf seorang konglomerat ahli Syurga, duduk bersama karyawannya dengan baju sama lusuhnya tanpa bisa dikenali

Ada hikmah khusus bagi para Ahli Syurga...Ada apakah dengan mereka..

Mereka bukan orang miskin, tapi mereka adalah orang-orang yang memilih untuk hidup sederhana.

Aku takut berlimpahnya harta akan menyilaukan mata dan hatiku.
Takut nyamannya rumah dan kendaraan membuatku tak lagi mampu meletakkan harta di tangan, tapi telah jauh meracuni hatiku. Dan aku sungguh takut dengan ujian harta ini.

Biarlah kendaraan kami biasa saja, sepeda motor yang sudah cukup berumur dan mobil kuno 1990-an yang sudah berkarat di beberapa sisinya. Asal dengan itu telah mampu membantuku beraktivitas dan menghemat banyak hal dalam perjalanan.

Aku malu pada Rasul dan Abu Bakar, yang menempuh perjalanan Makkah-Madinah dengan berjalan kaki, padahal mudah bagi beliau untuk meminta diperjalankan oleh Allah dengan Buraq sekalipun.

Aku malu pada Syekh Hasan Al-Banna & Syaikh Umar Tilmisani, yang lebih memilih naik kereta kelas ekonomi untuk berdakwah di seantero Mesir, meski secara finansial sangat mampu untuk naik kereta kelas di atasnya.

Biarlah kemana-mana aku ingin naik angkutan umum kelas ekonomi, selagi fisik mampu diajak berkompromi. Bukan naik taxi atau kelas eksekutif. Bukan karena sayang mengeluarkan uang, justru untuk hidup penuh dengan pendermaan..dan sungguh bersama orang-orang berbagai tipe di kelas ekonomi itu, banyak pelajaran yang dapat kuambil, agar bisa melihat kebawah demi memantapkan jalan ini

Biarlah aku memiliki baju secukupnya saja, tak harus mengikuti model terbaru. Yang penting masih utuh dipakai dan cukup pantas dilihat orang. Aku takut menjadi penganut paham materialis, berburu berbagai koleksi baju, kerudung, tas, alat tulis, perlengkapan elektronik... bukan karena perlu tapi hanya sekedar ingin.

Dan seringnya meraih kesenangan dan kenyamanan akan meracuni hati dan jiwa anak istriku tercinta dengan banyaknya permintaan karena terlalu sering aku sumpal dunia. Dan kelak anak-ana yg kusayangi akan menjadi lemah dihari depannya

Biarlah kugantungkan harapan demi hidupku yang hanya sekali saja, aku ingin memamerkan keanehanku dipandangan-Nya, disaat jaman menjadikan kenikmatan dunia menjadi harapan dan tipu daya terbesar sepanjang masa. Keanehanku yang nikmat karena aku hanya ingin Engkau ya Robb yang maha tahu keadaanku

Dikala hati tertuju kepada-Nyalah kehidupan ini benar-benar berada dalam jaminan secara lahir dan bathin, Allah yang maha memberi rejeki dan maha kaya menyantuni hidup, ketenganan hidup terjamin dan ketenangan rahmat yang indah ketika ujian Iman dan keyakinan terlewati

Sungguh berbeda disaat ucapan iman hanya sekedar ucapan kosong tanpa penghayatan, sadarlah hati yang tidur dan masukilah pintu kamar mandi dan mandilah, jangan biarkan terbuai dengan angan-angan kosong bagai mimpi seseorang yang masih tertidur.... angan-angan kosong bagaikan mimpi, dulu diimpikan, ketika didapatkan lambat laun akan menjadi kenangan

( Angan-angan Kosong dalam Ayat Al Quran )

QS-An Nisa 120 : Syaitan itu memberikan janji-janji kepada mereka dan membangkitkan angan-angan kosong pada mereka, padahal syaitan itu tidak menjanjikan kepada mereka selain dari tipuan belaka.

QS-An Nisa : 123 (Pahala dari Allah) itu bukanlah menurut angan-anganmu yang kosong dan tidak (pula) menurut angan-angan Ahli Kitab. Barangsiapa yang mengerjakan kejahatan, niscaya akan diberi pembalasan dengan kejahatan itu dan ia tidak mendapat pelindung dan tidak (pula) penolong baginya selain dari Allah

QS-Muhammad 25 : Sesungguhnya orang-orang yang kembali ke belakang sesudah petunjuk itu jelas bagi mereka, syaitan telah menjadikan mereka mudah berbuat dosa dan memanjangkan angan-angan mereka.
 
semoga bisa jadi inspirasi
terima kasih