Jumat, 03 Agustus 2012
Keutamaan Tarawih
Mengerjakan shalat tarawih sepanjang bulan suci ramadhan sangat dianjurkan karena setiap malamnya memiliki keistimewaan sendiri-sendiri. Diriwayatkan dari Ali Bin Abi Thalib ra bahwasanya berkata ia : Nabi Muhammad SAW pernah ditanya tentang kelebihan Shalat Tarawih di Bulan Ramadhan, maka beliaw bersabda :
Malam Ke-1 ; Seperti orang mukmin yang terlepas dari dosanya seperti hari dilahirkan dari kandungan ibunya.
Malam Ke-2 ; Dijanjikan pengampunan untuk dirinya dan kedua orang tuanya.
Malam Ke-3 ; Diampunkan dosa yang telah lalu.
Malam Ke-4 ; Pahalanya sebanyak membac kitab Zabur, Taurat, Injil dan Alquran.
Malam Ke-5 ; Pahalanya seperti mengerjakan shalat di Mesjidil Haram, Mesjid Nabawi, dan Mesjid Al Aqsa.
Malam Ke-6 ; Pahalanya seperti tawaf dari Baitul Makmun (tempat para malaikat) lalu pohon dan bebatuan serta tanah berdoa agar dosa-dosanya diampuni.
Malam Ke-7 ; Pahalanya seakan-akan bergabung dengan kelompok Nabi Musa as dan memerangi Firaun dan Haman.
Malam Ke-8 ; Allah SWT memberikan kepadanya seperti apa yang telah diberikan kepada Nabi Ibrahim as.
Malam Ke-9 ; Pahalanya seperti pahala ibadah Nabi Muhammad SAW.
MAlam Ke-10 ; Allah SWT memberikan Rezeki kebaikan dunia dan akhirat.
Malam Ke-11 ; Akan bersih se-bersih saat dilahirkan.
Malam Ke-12 ; Wajahnya bak bulan purnama di hari Kiamat.
Malam Ke-13 ; Selamat dari segala kesulitan saat kiamat.
Malam Ke-14 ; Bebas Hisab di hari Kiamat.
Malam Ke-15 ; Malaikat dan membawa Arsy memohonkan tambahan kebaikan untuknya.
Malam Ke-16 ; Selamat dari api neraka dan bebas masuk surga.
Malam Ke-17 ; Diberi pahala sebanyak pahala para Nabi.
Malam Ke-18 ; Malaikat menyeru bahwa Allah SWT telah rida padanya dan kedua orang tuanya.
Malam Ke-19 ; Allah SWT mengangkat derajatnya di surga Firdaus.
Malam Ke-20 ; Pahalanya sebanyak pahala syuhada.
Malam Ke-21 ; Dibangunkan sebua rumah dari cahaya di surga.
Malam Ke-22 ; Datang di hari kiamat dalam keadaan aman dari segala kesusahan.
Malam Ke-23 ; Dibangunkan sebuah kota di surga.
Malam Ke-24 ; Dikabulkan 24 doanya.
Malam Ke-25 ; Diselamatkan dari siksa kubur.
Malam Ke-26 ; Ditingkatkan pahalanya selama 40 tahun.
Malam Ke-27 ; Melewati sirathan mustakin laksana kilat.
Malam Ke-28 ; Diangkat harkatnya 1000 derajat dalam surga.
Malam Ke-29 ; Pahalanya setara 1000 kali beribadah haji.
Malam Ke-30 ; Allah SWT berfirman "Makanlah buah-buahan surga, mandilah dengan air salsabil, minumlah dari telaga kautsar. Aku adalah Tuhanmu dan engkau adalah hambaku."
Demikianlah, keutamaan shalat tarawih yang disebutkan oleh Rasulullah SAW.
Sumber : Kitab Durratun Nashihin, Iman Ali bin Abi Tahalib :
Terima kasih
semoga bisa jadi inspirasi..
Minggu, 08 Juli 2012
Sebuah Renungan Dari Kisah Seorang Suami
Lima tahun yang lalu, kecelakaan telah merenggut orang yang kukasihi, sering aku bertanya-tanya, bagaimana keadaan istri saya sekarang di alam surgawi, baik-baik sajakah? Dia pasti sangat sedih karena sudah meninggalkan sorang suami yang tidak mampu mengurus rumah dan seorang anak yang masih begitu kecil.
Begitulah yang kurasakan, karena selama
ini saya merasa bahwa saya telah gagal, tidak bisa memenuhi kebutuhan
jasmani dan rohani anak saya, dan gagal untuk menjadi ayah dan ibu untuk
anak saya.
Pada suatu hari, ada urusan penting di
tempat kerja, aku harus segera berangkat ke kantor, anak saya masih
tertidur. Ohhh… aku harus menyediakan makan untuknya. Karena masih ada
sisa nasi, jadi aku menggoreng telur untuk dia makan. Setelah
memberitahu anak saya yang masih mengantuk, kemudian aku bergegas
berangkat ke tempat kerja. Peran ganda yang kujalani, membuat energiku
benar-benar terkuras.
Suatu hari ketika aku pulang kerja aku
merasa sangat lelah, setelah bekerja sepanjang hari. Hanya sekilas aku
memeluk dan mencium anakku, saya langsung masuk ke kamar tidur, dan
melewatkan makan malam. Namun, ketika aku merebahkan badan ke tempat
tidur dengan maksud untuk tidur sejenak menghilangkan kepenatan,
tiba-tiba saya merasa ada sesuatu yang pecah dan tumpah seperti cairan
hangat!
Aku membuka selimut dan….. di sanalah
sumber ‘masalah’nya … sebuah mangkuk yang pecah dengan mie instan yang
berantakan di seprai dan selimut!
Ya Alloh..! Aku begitu marah, aku
mengambil gantungan pakaian, dan langsung menghujani anak saya yang
sedang gembira bermain dengan mainannya, dengan pukulan-pukulan! Dia
hanya menangis, sedikitpun tidak meminta belas kasihan, dia hanya
memberi penjelasan singkat:
“Ayah, tadi aku merasa lapar dan tidak
ada lagi sisa nasi. Tapi ayah belum pulang, jadi aku ingin memasak mie
instan. Aku ingat, ayah pernah mengatakan untuk tidak menyentuh atau
menggunakan kompor gas tanpa ada orang dewasa di sekitar, maka aku
menyalakan mesin air minum ini dan menggunakan air panas untuk memasak
mie.
Satu untuk ayah dan yang satu lagi untuk
saya … Karena aku takut mie’nya akan menjadi dingin, jadi aku
menyimpannya di bawah selimut supaya tetap hangat sampai ayah pulang.
Tapi aku lupa untuk mengingatkan ayah karena aku sedang bermain dengan
mainan saya … Saya minta maaf Ayah … “
Seketika, air mata mulai mengalir di
pipiku … tetapi, saya tidak ingin anak saya melihat ayahnya menangis
maka aku berlari ke kamar mandi dan menangis dengan menyalakan shower di
kamar mandi untuk menutupi suara tangis saya. Setelah beberapa lama,
aku hampiri anak saya, memeluknya dengan erat dan memberikan obat
kepadanya atas luka bekas pukulan dipantatnya, lalu aku membujuknya
untuk tidur.
Kemudian aku membersihkan kotoran
tumpahan mie di tempat tidur. Ketika semuanya sudah selesai dan lewat
tengah malam, aku melewati kamar anakku, dan melihat anakku masih
menangis, bukan karena rasa sakit di pantatnya, tapi karena dia sedang
melihat foto ibu yang dikasihinya.
Satu tahun berlalu sejak kejadian
itu, saya mencoba, dalam periode ini, untuk memusatkan perhatian dengan
memberinya kasih sayang seorang ayah dan juga kasih sayang seorang ibu,
serta memperhatikan semua kebutuhannya. Tanpa terasa, anakku sudah
berumur tujuh tahun, dan akan lulus dari Taman Kanak-kanak. Untungnya,
insiden yang terjadi tidak meninggalkan kenangan buruk di masa kecilnya
dan dia sudah tumbuh dewasa dengan bahagia.
Namun… belum lama, aku sudah memukul
anakku lagi, saya benar-benar menyesal…. Guru Taman Kanak-kanaknya
memanggilku dan memberitahukan bahwa anak saya absen dari sekolah. Aku
pulang kerumah lebih awal dari kantor, aku berharap dia bisa
menjelaskan. Tapi ia tidak ada dirumah, aku pergi mencari di sekitar
rumah kami, memangil-manggil namanya dan akhirnya menemukan dirinya di
sebuah toko alat tulis, sedang bermain komputer game dengan gembira. Aku
marah, membawanya pulang dan menghujaninya dengan pukulan-pukulan.
Dia diam saja lalu mengatakan, “Aku
minta maaf, Ayah”. Selang beberapa lama aku selidiki, ternyata ia absen
dari acara “pertunjukan bakat” yang diadakan oleh sekolah, karena yg
diundang adalah siswa dengan ibunya. Dan itulah alasan ketidakhadirannya
karena ia tidak punya ibu…..
Beberapa hari setelah penghukuman dengan
pukulan rotan, anakku pulang ke rumah memberitahu saya, bahwa
disekolahnya mulai diajarkan cara membaca dan menulis. Sejak saat itu,
anakku lebih banyak mengurung diri di kamarnya untuk berlatih menulis,
yang saya yakin, jika istri saya masih ada dan melihatnya ia akan merasa
bangga, tentu saja dia membuat saya bangga juga!
Waktu berlalu dengan begitu cepat, satu
tahun telah lewat. Saat ini musim dingin,dan hari raya idul fitri pun
telah tiba. tapi astagfirulloh, anakku membuat masalah lagi. Ketika aku
sedang menyelasaikan pekerjaan di hari-hari terakhir kerja, tiba-tiba
kantor pos menelpon. Karena pengiriman surat sedang mengalami puncaknya,
tukang pos juga sedang sibuk-sibuknya, suasana hati mereka pun jadi
kurang bagus.
Mereka menelpon saya dengan marah-marah,
untuk memberitahu bahwa anak saya telah mengirim beberapa surat tanpa
alamat. Walaupun saya sudah berjanji untuk tidak pernah memukul anak
saya lagi, tetapi saya tidak bias menahan diri untuk tidak memukulnya
lagi, karena saya merasa bahwa anak ini sudah benar-benar keterlaluan.
Tapi sekali lagi, seperti sebelumnya, dia meminta maaf : “Maaf, Ayah”.
Tidak ada tambahan satu kata pun untuk menjelaskan alasannya melakukan
itu.
Setelah itu saya pergi ke kantor pos
untuk mengambil surat-surat tanpa alamat tersebut lalu pulang. Sesampai
di rumah, dengan marah saya mendorong anak saya ke sudut mempertanyakan
kepadanya, perbuatan konyol apalagi ini? Apa yang ada dikepalanya?
Jawabannya, di tengah isak-tangisnya, adalah : “Surat-surat itu untuk
ibu…..”. Tiba-tiba mataku berkaca-kaca. …. tapi aku mencoba
mengendalikan emosi dan terus bertanya kepadanya: “Tapi kenapa kamu
memposkan begitu banyak surat-surat, pada waktu yg sama?”
Jawaban anakku itu : “Aku telah menulis
surat buat ibu untuk waktu yang lama, tapi setiap kali aku mau
menjangkau kotak pos itu, terlalu tinggi bagiku, sehingga aku tidak
dapat memposkan surat-suratku. Tapi baru-baru ini, ketika aku kembali ke
kotak pos, aku bisa mencapai kotak itu dan aku mengirimkannya
sekaligus”. Setelah mendengar penjelasannya ini, aku kehilangan
kata-kata, aku bingung, tidak tahu apa yang harus aku lakukan, dan apa
yang harus aku katakana ….
Aku bilang pada anakku, “Nak, ibu sudah
berada di surga, jadi untuk selanjutnya, jika kamu hendak menuliskan
sesuatu untuk ibu, cukup dengan membakar surat tersebut maka surat akan
sampai kepada ibu. Setelah mendengar hal ini, anakku jadi lebih tenang,
dan segera setelah itu, ia bisa tidur dengan nyenyak. Saya berjanji akan
membakar surat-surat atas namanya, jadi saya membawa surat-surat
tersebut ke luar, tapi…. saya jadi penasaran untuk tidak membuka surat
tersebut sebelum mereka berubah menjadi abu.
Dan salah satu dari isi surat-suratnya membuat hati saya hancur……
‘Ibu sayang’, Saya sangat merindukanmu! Hari ini, ada sebuah acara ‘Pertunjukan Bakat’ di sekolah, dan mengundang semua ibu untuk hadir di pertunjukan tersebut. Tapi kamu tidak ada, jadi saya tidak ingin menghadirinya juga. Aku tidak memberitahu ayah tentang hal ini karena aku takut ayah akan mulai menangis dan merindukanmu lagi.Saat itu untuk menyembunyikan kesedihan, aku duduk di depan komputer dan mulai bermain game di salah satu toko. Ayah keliling-keliling mencari saya, setelah menemukanku ayah marah, dan aku hanya bisa diam, ayah memukul aku, tetapi aku tidak menceritakan alasan yang sebenarnya. Ibu, setiap hari saya melihat ayah merindukanmu, setiap kali dia teringat padamu, ia begitu sedih dan sering bersembunyi dan menangis di kamarnya.Saya pikir kita berdua amat sangat merindukanmu. Terlalu berat untuk kita berdua, saya rasa. Tapi ibu, aku mulai melupakan wajahmu. Bisakah ibu muncul dalam mimpiku sehingga saya dapat melihat wajahmu dan ingat ibu? Temanku bilang jika kau tertidur dengan foto orang yang kamu rindukan, maka kamu akan melihat orang tersebut dalam mimpimu. Tapi ibu, mengapa engkau tak pernah muncul?
Setelah membaca surat itu, tangisku
tidak bisa berhenti karena saya tidak pernah bisa menggantikan
kesenjangan yang tak dapat digantikan semenjak ditinggalkan oleh istri
saya ….
Untuk para suami, yang telah dianugerahi
seorang istri yang baik, Untuk para istri, yang telah dianugerahi
seorang suami yang baik atau untuk calon ibu atau bapak, yang penuh
kasih sayang terhadap anak-anaknya selalu berterima-kasihlah setiap hari
padanya. Dia telah rela menghabiskan sisa umurnya untuk menemani
hidupmu, membantumu, mendukungmu, memanjakanmu, membimbingmu dan selalu
setia menunggumu, menjaga dan menyayangi dirimu dan anak-anakmu.
Hargailah keberadaannya,
kasihilah dan cintailah dia sepanjang hidupmu dengan segala kekurangan
dan kelebihannya, karena apabila engkau telah kehilangan dia, tidak ada
emas permata, intan berlian yg bisa menggantikan posisinya
terima kasih
semoga bisa jadi inspirasi..
sumber : Blogger Newbie
semoga bisa jadi inspirasi..
sumber : Blogger Newbie
Sandal Jepit Istriku

Selera makanku mendadak punah. Hanya
ada rasa kesal dan jengkel yang memenuhi kepala ini. Duh… betapa tidak
gemas, dalam keadaan lapar memuncak seperti ini makanan yang tersedia
tak ada yang memuaskan lidah. Sayur sop ini rasanya manis bak kolak
pisang, sedang perkedelnya asin nggak ketulungan.
“Ummi… Ummi, kapan kau dapat memasak
dengan benar…? Selalu saja, kalau tak keasinan…kemanisan, kalau tak
keaseman… ya kepedesan!” Ya, aku tak bisa menahan emosi untuk tak
menggerutu.”Sabar bi…, Rasulullah juga sabar terhadap masakan Aisyah dan
Khodijah. Katanya mau kayak Rasul…? ” ucap isteriku kalem.
“Iya… tapi abi kan manusia biasa. Abi
belum bisa sabar seperti Rasul. Abi tak tahan kalau makan terus menerus
seperti ini…!” Jawabku dengan nada tinggi. Mendengar ucapanku yang
bernada emosi, kulihat isteriku menundukkan kepala dalam-dalam. Kalau
sudah begitu, aku yakin pasti air matanya sudah merebak.
***
Sepekan sudah aku ke luar kota. Dan
tentu, ketika pulang benak ini penuh dengan jumput-jumput harapan untuk
menemukan ‘baiti jannati’ di rumahku. Namun apa yang terjadi…? Ternyata
kenyataan tak sesuai dengan apa yang kuimpikan. Sesampainya di rumah,
kepalaku malah mumet tujuh keliling.
Bayangkan saja, rumah kontrakanku tak
ubahnya laksana kapal burak (pecah). Pakaian bersih yang belum disetrika
menggunung di sana sini. Piring-piring kotor berpesta pora di dapur,
dan cucian… ouw… berember-ember. Ditambah lagi aroma bau busuknya yang
menyengat, karena berhari-hari direndam dengan detergen tapi tak juga
dicuci.
Melihat keadaan seperti ini aku cuma
bisa beristigfar sambil mengurut dada. “Ummi…ummi, bagaimana abi tak
selalu kesal kalau keadaan terus menerus begini…?” ucapku sambil
menggeleng-gelengka n kepala. “Ummi… isteri sholihat itu tak hanya
pandai ngisi pengajian, tapi dia juga harus pandai dalam mengatur tetek
bengek urusan rumah tangga.
Harus bisa masak, nyetrika, nyuci, jahit
baju, beresin rumah…?” Belum sempat kata-kataku habis sudah terdengar
ledakan tangis isteriku yang kelihatan begitu pilu. “Ah…wanita gampang
sekali untuk menangis…,” batinku berkata dalam hati. “Sudah diam Mi, tak
boleh cengeng. Katanya mau jadi isteri shalihat…? Isteri shalihat itu
tidak cengeng,” bujukku hati-hati setelah melihat air matanya menganak
sungai dipipinya.
“Gimana nggak nangis! Baru juga pulang
sudah ngomel-ngomel terus. Rumah ini berantakan karena memang ummi tak
bisa mengerjakan apa-apa. Jangankan untuk kerja untuk jalan saja susah.
Ummi kan muntah-muntah terus, ini badan rasanya tak bertenaga sama
sekali,” ucap isteriku diselingi isak tangis. “Abi nggak ngerasain sih
bagaimana maboknya orang yang hamil muda…” Ucap isteriku lagi, sementara
air matanya kulihat tetap merebak.
Bi…, siang nanti antar Ummi ngaji
ya…?” pinta isteriku. “Aduh, Mi… abi kan sibuk sekali hari ini.
Berangkat sendiri saja ya?” ucapku. “Ya sudah, kalau abi sibuk, Ummi
naik bis umum saja, mudah-mudahan nggak pingsan di jalan,” jawab
isteriku. “Lho, kok bilang gitu…?” selaku. “Iya, dalam kondisi
muntah-muntah seperti ini kepala Ummi gampang pusing kalau mencium bau
bensin. Apalagi ditambah berdesak-desakan dalam bus dengan suasana panas
menyengat.
Tapi mudah-mudahan sih nggak
kenapa-kenapa,” ucap isteriku lagi. “Ya sudah, kalau begitu naik bajaj
saja,” jawabku ringan. Pertemuan hari ini ternyata diundur pekan depan.
Kesempatan waktu luang ini kugunakan untuk menjemput isteriku. Entah
kenapa hati ini tiba-tiba saja menjadi rindu padanya. Motorku sudah
sampai di tempat isteriku mengaji. Di depan pintu kulihat masih banyak
sepatu berjajar, ini pertanda acara belum selesai.
Kuperhatikan sepatu yang berjumlah
delapan pasang itu satu persatu. Ah, semuanya indah-indah dan kelihatan
harganya begitu mahal. “Wanita, memang suka yang indah-indah, sampai
bentuk sepatu pun lucu-lucu,” aku membathin sendiri. Mataku tiba-tiba
terantuk pandang pada sebuah sendal jepit yang diapit sepasang sepatu
indah. Dug! Hati ini menjadi luruh. “Oh….bukankah ini sandal jepit
isteriku?” tanya hatiku. Lalu segera kuambil sandal jepit kumal yang
tertindih sepatu indah itu.
Tes! Air mataku jatuh tanpa terasa.
Perih nian rasanya hati ini, kenapa baru sekarang sadar bahwa aku tak
pernah memperhatikan isteriku. Sampai-sampai kemana ia pergi harus
bersandal jepit kumal. Sementara teman-temannnya bersepatu bagus.
“Maafkan aku Maryam,” pinta hatiku. “Krek…,” suara pintu terdengar
dibuka. Aku terlonjak, lantas menyelinap ke tembok samping. Kulihat dua
ukhti berjalan melintas sambil menggendong bocah mungil yang berjilbab
indah dan cerah, secerah warna baju dan jilbab umminya.
Beberapa menit setelah kepergian dua
ukhti itu, kembali melintas ukhti-ukhti yang lain. Namun, belum juga
kutemukan Maryamku. Aku menghitung sudah delapan orang keluar dari rumah
itu, tapi isteriku belum juga keluar.
Penantianku berakhir ketika sesosok
tubuh berbaya gelap dan berjilbab hitam melintas. “Ini dia mujahidahku!”
pekik hatiku. Ia beda dengan yang lain, ia begitu bersahaja. Kalau yang
lain memakai baju berbunga cerah indah, ia hanya memakai baju warna
gelap yang sudah lusuh pula warnanya.
Diam-diam hatiku kembali dirayapi
perasaan berdosa karena selama ini kurang memperhatikan isteri. Ya, aku
baru sadar, bahwa semenjak menikah belum pernah membelikan sepotong baju
pun untuknya. Aku terlalu sibuk memperhatikan kekurangan-kekurang an
isteriku, padahal di balik semua itu begitu banyak kelebihanmu, wahai
Maryamku.
Aku benar-benar menjadi malu pada Allah
dan Rasul-Nya. Selama ini aku terlalu sibuk mengurus orang lain, sedang
isteriku tak pernah kuurusi. Padahal Rasul telah berkata: “Yang terbaik
di antara kamu adalah yang paling baik terhadap keluarganya.” Sedang
aku..? Ah, kenapa pula aku lupa bahwa Allah menyuruh para suami agar
menggauli isterinya dengan baik. Sedang aku…? terlalu sering ngomel dan
menuntut isteri dengan sesuatu yang ia tak dapat melakukannya.
Aku benar-benar merasa menjadi suami
terdzalim!!! “Maryam…!” panggilku, ketika tubuh berbaya gelap itu
melintas. Tubuh itu lantas berbalik ke arahku, pandangan matanya
menunjukkan ketidakpercayaan atas kehadiranku di tempat ini. Namun,
kemudian terlihat perlahan bibirnya mengembangkan senyum. Senyum
bahagia. “Abi…!” bisiknya pelan dan girang. Sungguh, aku baru melihat
isteriku segirang ini. “Ah, kenapa tidak dari dulu kulakukan menjemput
isteri?” sesal hatiku.
***
Esoknya aku membeli sepasang sepatu
untuk isteriku. Ketika tahu hal itu, senyum bahagia kembali mengembang
dari bibirnya. “Alhamdulillah, jazakallahu…,” ucapnya dengan suara
tulus. Ah, Maryam, lagi-lagi hatiku terenyuh melihat polahmu. Lagi-lagi
sesal menyerbu hatiku.
Kenapa baru sekarang aku bisa bersyukur
memperoleh isteri zuhud dan ‘iffah sepertimu? Kenapa baru sekarang pula
kutahu betapa nikmatnya menyaksikan matamu yang berbinar-binar karena
perhatianku…?
terima kasih
semoga bisa jadi inspirasi..
sumber : Blogger Newbie
semoga bisa jadi inspirasi..
sumber : Blogger Newbie
Tiga Karung Beras
Kisah ini adalah kisah nyata sebuah keluarga yang sangat miskin, yang memiliki seorang anak laki-laki.
Ayahnya sudah meninggal dunia, tinggallah ibu dan anak laki-lakinya untuk saling menopang.Ibunya bersusah payah seorang membesarkan anaknya, saat itu kampung tersebut belum memiliki listrik.
Saat membaca buku, sang anak tersebut diterangi sinar lampu minyak, sedangkan ibunya dengan penuh kasih menjahitkan baju untuk sang anak.
Saat memasuki musim gugur, sang anak memasuki sekolah menengah atas.
Tetapi justru saat itulah ibunya menderita penyakit rematik yang parah sehingga tidak bisa lagi bekerja disawah.
Saat itu setiap bulannya murid-murid diharuskan membawa tiga puluh kg beras untuk dibawa kekantin sekolah. Sang anak mengerti bahwa ibuya tidak mungkin bisa memberikan tiga puluh kg beras tersebut.
Dan kemudian berkata kepada ibunya: “Ma, saya mau berhenti sekolah dan membantu mama bekerja disawah”.
Tetapi justru saat itulah ibunya menderita penyakit rematik yang parah sehingga tidak bisa lagi bekerja disawah.
Saat itu setiap bulannya murid-murid diharuskan membawa tiga puluh kg beras untuk dibawa kekantin sekolah. Sang anak mengerti bahwa ibuya tidak mungkin bisa memberikan tiga puluh kg beras tersebut.
Dan kemudian berkata kepada ibunya: “Ma, saya mau berhenti sekolah dan membantu mama bekerja disawah”.
Ibunya mengelus kepala anaknya dan
berkata : “Kamu memiliki niat seperti itu mama sudah senang sekali
tetapi kamu harus tetap sekolah. Jangan khawatir, kalau mama sudah
melahirkan kamu, pasti bisa merawat dan menjaga kamu. Cepatlah pergi
daftarkan kesekolah nanti berasnya mama yang akan bawa kesana”.
Karena sang anak tetap bersikeras tidak mau mendaftarkan kesekolah, mamanya menampar sang anak tersebut.
Karena sang anak tetap bersikeras tidak mau mendaftarkan kesekolah, mamanya menampar sang anak tersebut.
Dan ini adalah pertama kalinya sang anak ini dipukul oleh mamanya.
Sang anak akhirnya pergi juga kesekolah. Sang ibunya terus berpikir dan merenung dalam hati sambil melihat bayangan anaknya yang pergi menjauh.
Sang anak akhirnya pergi juga kesekolah. Sang ibunya terus berpikir dan merenung dalam hati sambil melihat bayangan anaknya yang pergi menjauh.
Tak berapa lama, dengan
terpincang-pincang dan nafas tergesa-gesa Ibunya datang kekantin sekolah
dan menurunkan sekantong beras dari bahunya.
Pengawas yang bertanggung jawab
menimbang beras dan membuka kantongnya dan mengambil segenggam beras
lalu menimbangnya dan berkata : “Kalian para wali murid selalu suka
mengambil keuntungan kecil, kalian lihat, disini isinya campuran beras
dan gabah.”
“Jadi kalian kira kantin saya ini tempat penampungan beras campuran”. Sang ibu ini pun malu dan berkali-kali meminta maaf kepada ibu pengawas tersebut.
“Jadi kalian kira kantin saya ini tempat penampungan beras campuran”. Sang ibu ini pun malu dan berkali-kali meminta maaf kepada ibu pengawas tersebut.
Awal Bulan berikutnya ibu memikul
sekantong beras dan masuk kedalam kantin. Ibu pengawas seperti biasanya
mengambil sekantong beras dari kantong tersebut dan melihat. Masih
dengan alis yang mengerut dan berkata: “Masih dengan beras yang sama”.
Pengawas itupun berpikir, apakah kemarin
itu dia belum berpesan dengan Ibu ini dan kemudian berkata : “Tak
perduli beras apapun yang Ibu berikan kami akan terima tapi jenisnya
harus dipisah jangan dicampur bersama, kalau tidak maka beras yang
dimasak tidak bisa matang sempurna. Selanjutnya kalau begini lagi, maka
saya tidak bisa menerimanya” .
Sang ibu sedikit takut dan berkata :
“Ibu pengawas, beras dirumah kami semuanya seperti ini jadi bagaimana?”
Pengawas itu pun tidak mau tahu dan berkata : “Ibu punya berapa hektar
tanah sehingga bisa menanam bermacam- macam jenis beras”. Menerima
pertanyaan seperti itu sang ibu tersebut akhirnya tidak berani berkata
apa-apa lagi.
Awal bulan ketiga, sang ibu datang
kembali kesekolah. Sang pengawas kembali marah besar dengan kata-kata
kasar dan berkata: “Kamu sebagai mama kenapa begitu keras kepala, kenapa
masih tetap membawa beras yang sama. Bawa pulang saja berasmu itu !”.
Dengan berlinang air mata sang ibu pun
berlutut di depan pengawas tersebut dan berkata: “Maafkan saya bu,
sebenarnya beras ini saya dapat dari mengemis”. Setelah mendengar kata
sang ibu, pengawas itu kaget dan tidak bisa berkata apa-apa lagi. Sang
ibu tersebut akhirnya duduk diatas lantai, menggulung celananya dan
memperlihatkan kakinya yang sudah mengeras dan membengkak.
Sang ibu tersebut menghapus air mata dan
berkata: “Saya menderita rematik stadium terakhir, bahkan untuk
berjalan pun susah, apalagi untuk bercocok tanam. Anakku sangat mengerti
kondisiku dan mau berhenti sekolah untuk membantuku bekerja disawah.
Tapi saya melarang dan menyuruhnya bersekolah lagi.”
Selama ini dia tidak memberi tahu sanak saudaranya yang ada dikampung sebelah. Lebih-lebih takut melukai harga diri anaknya.
Setiap hari pagi-pagi buta dengan kantong kosong dan bantuan tongkat pergi ke kampung sebelah untuk mengemis. Sampai hari sudah gelap pelan-pelan kembali ke kampung sendiri. Sampai pada awal bulan semua beras yang terkumpul diserahkan ke sekolah.
Setiap hari pagi-pagi buta dengan kantong kosong dan bantuan tongkat pergi ke kampung sebelah untuk mengemis. Sampai hari sudah gelap pelan-pelan kembali ke kampung sendiri. Sampai pada awal bulan semua beras yang terkumpul diserahkan ke sekolah.
Pada saat sang ibu bercerita, secara
tidak sadar air mata Pengawas itupun mulai mengalir, kemudian mengangkat
ibu tersebut dari lantai dan berkata: “Bu sekarang saya akan melapor
kepada kepala sekolah, supaya bisa diberikan sumbangan untuk keluarga
ibu.”
Sang ibu buru- buru menolak dan berkata:
“Jangan, kalau anakku tahu ibunya pergi mengemis untuk sekolah anaknya,
maka itu akan menghancurkan harga dirinya. Dan itu akan mengganggu
sekolahnya. Saya sangat terharu dengan kebaikan hati ibu pengawas,
tetapi tolong ibu bisa menjaga rahasia ini.”
Akhirnya masalah ini diketahui juga oleh
kepala sekolah. Secara diam-diam kepala sekolah membebaskan biaya
sekolah dan biaya hidup anak tersebut selama tiga tahun. Setelah tiga
tahun kemudian, sang anak tersebut lulus masuk ke perguruan tinggi qing
hua dengan nilai 627 point.
Dihari perpisahan sekolah, kepala
sekolah sengaja mengundang ibu dari anak ini duduk diatas tempat duduk
utama. Ibu ini merasa aneh, begitu banyak murid yang mendapat nilai
tinggi, tetapi mengapa hanya ibu ini yang diundang. Yang lebih aneh lagi
disana masih terdapat tiga kantong beras.
Pengawas sekolah tersebut akhirnya maju kedepan dan menceritakan kisah sang ibu ini yang mengemis beras demi anaknya bersekolah.
Kepala sekolah pun menunjukkan tiga kantong beras itu dengan penuh haru dan berkata : “Inilah sang ibu dalam cerita tadi.”
Dan mempersilakan sang ibu tersebut yang sangat luar biasa untuk naik ke atas mimbar.
Dan mempersilakan sang ibu tersebut yang sangat luar biasa untuk naik ke atas mimbar.
Anak dari sang ibu tersebut dengan
ragu-ragu melihat kebelakang dan melihat gurunya menuntun mamanya
berjalan keatas mimbar. Sang ibu dan sang anakpun saling bertatapan.
Pandangan mama yang hangat dan lembut kepada anaknya. Akhirnya sang anak
pun memeluk dan merangkul erat mamanya dan berkata: “Oh Mamaku……”
terima kasih
semoga bisa jadi inspirasi..
sumber : Blogger Newbie
semoga bisa jadi inspirasi..
sumber : Blogger Newbie
Minggu, 01 Juli 2012
Pesan Hidup Dari Bocah Penjual Koran
Dari tadi pagi hujan mengguyur kota
tanpa henti, udara yang biasanya sangat panas, hari ini terasa sangat
dingin. Di jalanan hanya sesekali mobil yang lewat, hari ini hari libur
membuat orang kota malas untuk keluar rumah.
Di perempatan jalan, Umar, seorang anak
kecil berlari-lari menghampiri mobil yang berhenti di lampu merah, dia
membiarkan tubuhnya terguyur air hujan, hanya saja dia begitu erat
melindungi koran dagangannya dengan lembaran plastik.
“Korannya bu !”seru Umar berusaha mengalahkan suara air hujan.
Dari balik kaca mobil si ibu menatap
dengan kasihan, dalam hatinya dia merenung anak sekecil ini harus
berhujan-hujan untuk menjual koran. Dikeluarkannya satu lembar dua puluh
ribuan dari lipatan dompet dan membuka sedikit kaca mobil untuk
mengulurkan lembaran uang.
“Mau koran yang mana bu?, tanya Umar dengan riang.
”Nggak usah, ini buat kamu makan, kalau koran tadi pagi aku juga sudah baca”, jawab si ibu.
”Nggak usah, ini buat kamu makan, kalau koran tadi pagi aku juga sudah baca”, jawab si ibu.
Si Umar kecil itu tampak terpaku, lalu
diulurkan kembali uang dua puluh ribu yang dia terima, ”Terima kasih bu,
saya menjual koran, kalau ibu mau beli koran silakan, tetapi kalau ibu
memberikan secara cuma-cuma, mohon maaf saya tidak bisa menerimanya”,
Umar berkata dengan muka penuh ketulusan.
Dengan geram si ibu menerima kembali
pemberiannya, raut mukanya tampak kesal, dengan cepat dinaikkannya kaca
mobil. Dari dalam mobil dia menggerutu ”Udah miskin sombong!”. Kakinya
menginjak pedal gas karena lampu menunjukkan warna hijau. Meninggalkan
Umar yang termenung penuh tanda tanya.Umar berlari lagi ke pinggir, dia
mencoba merapatkan tubuhnya dengan dinding ruko tempatnya berteduh.
Tangan kecilnya sesekali mengusap muka
untuk menghilangkan butir-butir air yang masih menempel. Sambil
termenung dia menatap nanar rintik-rintik hujan di depannya, ”Ya Tuhan,
hari ini belum satupun koranku yang laku”, gumamnya lemah.
Hari beranjak sore namun hujan belum
juga reda, Umar masih saja duduk berteduh di emperan ruko, sesekali
tampak tangannya memegangi perut yang sudah mulai lapar.Tiba-tiba
didepannya sebuah mobil berhenti, seorang bapak dengan bersungut-sungut
turun dari mobil menuju tempat sampah,”Tukang gorengan sialan, minyak
kaya gini bisa bikin batuk”, dengan penuh kebencian dicampakkannya satu
plastik gorengan ke dalam tong sampah, dan beranjak kembali masuk ke
mobil.
Umar dengan langkah cepat menghampiri
laki-laki yang ada di mobil. ”Mohon maaf pak, bolehkah saya mengambil
makanan yang baru saja bapak buang untuk saya makan”, pinta Umar dengan
penuh harap. Pria itu tertegun, luar biasa anak kecil di depannya.
Harusnya dia bisa saja mengambilnya dari tong sampah tanpa harus meminta
ijin. Muncul perasaan belas kasihan dari dalam hatinya.
“Nak, bapak bisa membelikan kamu makanan yang baru, kalau kamu mau”
”Terima kasih pak, satu kantong gorengan itu rasanya sudah cukup bagi saya, boleh khan pak?, tanya Umar sekali lagi.”Bbbbbooolehh”, jawab pria tersebut dengan tertegun. Umar berlari riang menuju tong sampah, dengan wajah sangat bahagia dia mulai makan gorengan, sesekali dia tersenyum melihat laki-laki yang dari tadi masih memandanginya.
”Terima kasih pak, satu kantong gorengan itu rasanya sudah cukup bagi saya, boleh khan pak?, tanya Umar sekali lagi.”Bbbbbooolehh”, jawab pria tersebut dengan tertegun. Umar berlari riang menuju tong sampah, dengan wajah sangat bahagia dia mulai makan gorengan, sesekali dia tersenyum melihat laki-laki yang dari tadi masih memandanginya.
Dari dalam mobil sang bapak memandangi terus Umar yang sedang makan. Dengan perasaan berkecamuk di dekatinya Umar.
”Nak, bolehkah bapak bertanya, kenapa
kamu harus meminta ijinku untuk mengambil makanan yang sudah aku buang?,
dengan lembut pria itu bertanya dan menatap wajah anak kecil di
depannya dengan penuh perasaan kasihan.
”Karena saya melihat bapak yang
membuangnya, saya akan merasakan enaknya makanan halal ini kalau saya
bisa meminta ijin kepada pemiliknya, meskipun buat bapak mungkin sudah
tidak berharga, tapi bagi saya makanan ini sangat berharga, dan saya
pantas untuk meminta ijin memakannya ”, jawab si anak sambil
membersihkan bibirnya dari sisa minyak goreng.
Pria itu sejenak terdiam, dalam batinnya
berkata, anak ini sangat luar biasa. ”Satu lagi nak, aku kasihan
melihatmu, aku lihat kamu basah dan kedinginan, aku ingin membelikanmu
makanan lain yang lebih layak, tetapi mengapa kamu menolaknya”.
Si anak kecil tersenyum dengan
manis, ”Maaf pak, bukan maksud saya menolak rejeki dari Bapak. Buat saya
makan sekantong gorengan hari ini sudah lebih dari cukup. Kalau saya
mencampakkan gorengan ini dan menerima tawaran makanan yang lain yang
menurut Bapak lebih layak, maka sekantong gorengan itu menjadi mubazir,
basah oleh air hujan dan hanya akan jadi makanan tikus.”
”Tapi bukankah kamu mensia-siakan
peluang untuk mendapatkan yang lebih baik dan lebih nikmat dengan makan
di restoran di mana aku yang akan mentraktirnya”, ujar sang laki-laki
dengan nada agak tinggi karena merasa anak di depannya berfikir keliru.
Umar menatap wajah laki-laki didepannya
dengan tatapan yang sangat teduh,”Bapak!, saya sudah sangat bersyukur
atas berkah sekantong gorengan hari ini. Saya lapar dan bapak
mengijinkan saya memakannya”, Umar memperbaiki posisi duduknya dan
berkata kembali, ”Dan saya merasa berbahagia, bukankah bahagia adalah
bersyukur dan merasa cukup atas anugerah hari ini, bukan menikmati
sesuatu yang nikmat dan hebat hari ini tetapi menimbulkan keinginan dan
kedahagaan untuk mendapatkannya kembali di kemudian hari.
”Umar berhenti berbicara sebentar, lalu
diciumnya tangan laki-laki di depannya untuk berpamitan. Dengan suara
lirih dan tulus Umar melanjutkan kembali,”Kalau hari ini saya makan di
restoran dan menikmati kelezatannya dan keesokan harinya saya
menginginkannya kembali sementara bapak tidak lagi mentraktir saya, maka
saya sangat khawatir apakah saya masih bisa merasakan kebahagiaannya”.
Pria tersebut masih saja terpana, dia
mengamati anak kecil di depannya yang sedang sibuk merapikan koran dan
kemudian berpamitan pergi.”Ternyata bukan dia yang harus dikasihani,
Harusnya aku yang layak dikasihani, karena aku jarang bisa berdamai
dengan hari ini”
terima kasih
semoga bisa jadi inspirasi..
sumber : Blogger Newbie.
semoga bisa jadi inspirasi..
sumber : Blogger Newbie.
Jumat, 01 Juni 2012
Seberapa Banyak Anda Tahu Akhlak Nabi Muhammad SAW ?
Setelah Nabi Muhammad SAW wafat, seketika itu
pula kota Madinah bising dengan tangisan ummat Islam; antara percaya –
tidak percaya, Rasul Yang Mulia telah meninggalkan para sahabat.
Beberapa waktu kemudian, seorang arab badui menemui Umar dan dia
meminta, “Ceritakan padaku akhlak Nabi Muhammad SAW!”. Umar menangis
mendengar permintaan itu. Ia tak sanggup berkata apa-apa. Ia menyuruh
Arab badui tersebut menemui Bilal. Setelah ditemui dan diajukan
permintaan yg sama, Bilal pun menangis, ia tak sanggup menceritakan
apapun. Bilal hanya dapat menyuruh orang tersebut menjumpai Ali bin Abi
Thalib.
Orang Badui ini mulai heran. Bukankah Umar merupakan seorang sahabat senior Nabi Muhammad SAW, begitu pula Bilal, bukankah ia merupakan sahabat setia Nabi Muhammad SAW. Mengapa mereka tak sanggup menceritakan akhlak Nabi Muhammad SAW. Dengan berharap-harap cemas, Badui ini menemui Ali. Ali dengan linangan air mata berkata, “Ceritakan padaku keindahan dunia ini!.” Badui ini menjawab, “Bagaimana mungkin aku dapat menceritakan segala keindahan dunia ini…” Ali menjawab, “Engkau tak sanggup menceritakan keindahan dunia padahal Allah telah berfirman bahwa sungguh dunia ini kecil dan hanyalah senda gurau belaka, lalu bagaimana aku dapat melukiskan akhlak Nabi Muhammad SAW, sedangkan Allah telah berfirman bahwa sungguh Muhammad memiliki budi pekerti yang agung! (QS. Al-Qalam[68]: 4)”
Badui ini lalu menemui Siti Aisyah r.a. Isteri Nabi Muhammad SAW yang sering disapa “Khumairah” oleh Nabi Muhammad SAW ini hanya menjawab, khuluquhu al-Qur’an (Akhlaknya Muhammad itu Al-Qur’an). Seakan-akan Aisyah ingin mengatakan bahwa Nabi Muhammad SAW itu bagaikan Al-Qur’an berjalan. Badui ini tidak puas, bagaimana bisa ia segera menangkap akhlak Nabi Muhammad SAW kalau ia harus melihat ke seluruh kandungan Qur’an. Aisyah akhirnya menyarankan Badui ini untuk membaca dan menyimak QS Al-Mu’minun[23]: 1-11.
Kesan Akhlak Nabi Muhammad SAW Bagi Sahabat Dan Keluarga
Bagi para sahabat, masing-masing memiliki kesan tersendiri dari pergaulannya dengan Nabi. Kalau mereka diminta menjelaskan seluruh akhlak Nabi Muhammad SAW, linangan air mata-lah jawabannya, karena mereka terkenang akan junjungan mereka. Paling-paling mereka hanya mampu menceritakan satu fragmen yang paling indah dan berkesan dalam interaksi mereka dengan Nabi terakhir ini.
Mari kita kembali ke Aisyah. Ketika ditanya, bagaimana perilaku Nabi Muhammad SAW, Aisyah hanya menjawab, “ah semua perilakunya indah.” Ketika didesak lagi, Aisyah baru bercerita saat terindah baginya, sebagai seorang isteri. “Ketika aku sudah berada di tempat tidur dan kami sudah masuk dalam selimut, dan kulit kami sudah bersentuhan, suamiku berkata, ‘Ya Aisyah, izinkan aku untuk menghadap Tuhanku terlebih dahulu.’” Apalagi yang dapat lebih membahagiakan seorang isteri, karena dalam sejumput episode tersebut terkumpul kasih sayang, kebersamaan, perhatian dan rasa hormat dari seorang suami, yang juga seorang utusan Allah.
Nabi Muhammad SAW jugalah yang membikin khawatir hati Aisyah ketika menjelang subuh Aisyah tidak mendapati suaminya disampingnya. Aisyah keluar membuka pintu rumah. terkejut ia bukan kepalang, melihat suaminya tidur di depan pintu. Aisyah berkata, “Mengapa engkau tidur di sini?” Nabi Muhammmad SAW menjawab, “Aku pulang sudah larut malam, aku khawatir mengganggu tidurmu sehingga aku tidak mengetuk pintu. itulah sebabnya aku tidur di depan pintu.” Mari berkaca di diri kita masing-masing. Bagaimana perilaku kita terhadap isteri kita? Nabi Muhammad SAW mengingatkan, “berhati-hatilah kamu terhadap isterimu, karena sungguh kamu akan ditanya di hari akhir tentangnya.” Para sahabat pada masa Nabi Muhammad SAW memperlakukan isteri mereka dengan hormat, mereka takut kalau wahyu turun dan mengecam mereka.
Buat sahabat yang lain, fragmen yang paling indah ketika sahabat tersebut terlambat datang ke Majelis Nabi Muhammad SAW. Tempat sudah penuh sesak. Ia minta izin untuk mendapat tempat, namun sahabat yang lain tak ada yang mau memberinya tempat. Di tengah kebingungannya, Rasul memanggilnya. Nabi Muhammad SAW memintanya duduk di dekatnya. Tidak cukup dengan itu, Rasul pun melipat sorbannya lalu diberikan pada sahabat tersebut untuk dijadikan alas tempat duduk. Sahabat tersebut dengan berlinangan air mata, menerima sorban tersebut namun tidak menjadikannya alas duduk akan tetapi mencium sorban Nabi Muhammad SAW.
Senangkah kita kalau orang yang kita hormati, pemimpin yang kita junjung tiba-tiba melayani kita bahkan memberikan sorbannya untuk tempat alas duduk kita. Bukankah kalau mendapat kartu lebaran dari seorang pejabat saja kita sangat bersuka cita. Begitulah akhlak Nabi Muhammad SAW, sebagai pemimpin ia ingin menyenangkan dan melayani bawahannya. Dan tengoklah diri kita. Kita adalah pemimpin, bahkan untuk lingkup paling kecil sekalipun, sudahkah kita meniru akhlak Rasul Yang Mulia.
Nabi Muhammad SAW juga terkenal suka memuji sahabatnya. Kalau kita baca kitab-kitab hadis, kita akan kebingungan menentukan siapa sahabat yang paling utama. Terhadap Abu Bakar, Rasul selalu memujinya. Abu Bakar-lah yang menemani Rasul ketika hijrah. Abu Bakarlah yang diminta menjadi Imam ketika Rasul sakit. Tentang Umar, Rasul pernah berkata, “Syetan saja takut dengan Umar, bila Umar lewat jalan yang satu, maka Syetan lewat jalan yang lain.” Dalam riwayat lain disebutkan, “Nabi Muhammad SAW bermimpi meminum susu. Belum habis satu gelas, Nabi Muhammad SAW memberikannya pada Umar yang meminumnya sampai habis. Para sahabat bertanya, Ya Rasul apa maksud (ta’wil) mimpimu itu? Rasul menjawab ilmu pengetahuan.”
Tentang Utsman, Rasul sangat menghargai Ustman karena itu Utsman menikahi dua putri Nabi Muhammad SAW, hingga Utsman dijuluki dzu an-Nurain (pemilik dua cahaya). Mengenai Ali, Rasul bukan saja menjadikannya ia menantu, tetapi banyak sekali riwayat yang menyebutkan keutamaan Ali. “Aku ini kota ilmu, dan Ali adalah pintunya.” “Barang siapa membenci Ali, maka ia merupakan orang munafik.”
Lihatlah diri kita sekarang. Bukankah jika ada seorang rekan yang punya sembilan kelebihan dan satu kekurangan, maka kita jauh lebih tertarik berjam-jam untuk membicarakan yang satu itu dan melupakan yang sembilan. Ah…ternyata kita belum suka memuji; kita masih suka mencela. Ternyata kita belum mengikuti sunnah Nabi Muhammad SAW.
Saya pernah mendengar ada seorang ulama yang mengatakan bahwa Allah pun sangat menghormati Nabi Muhammad SAW. Buktinya, dalam Al-Qur’an Allah memanggil para Nabi dengan sebutan nama: Musa, Ayyub, Zakaria, dll. tetapi ketika memanggil Nabi Muhammad SAW, Allah menyapanya dengan “Wahai Nabi”. Ternyata Allah saja sangat menghormati beliau.
Para sahabat pun ditegur oleh Allah ketika mereka berlaku tak sopan pada Nabi Muhammad SAW. Alkisah, rombongan Bani Tamim menghadap Rasul. Mereka ingin Rasul menunjuk pemimpin buat mereka. Sebelum Nabi Muhammad SAW memutuskan siapa, Abu Bakar berkata: “Angkat Al-Qa’qa bin Ma’bad sebagai pemimpin.” Kata Umar, “Tidak, angkatlah Al-Aqra’ bin Habis.” Abu Bakar berkata ke Umar, “Kamu hanya ingin membantah aku saja,” Umar menjawab, “Aku tidak bermaksud membantahmu.” Keduanya berbantahan sehingga suara mereka terdengar makin keras. Waktu itu turunlah ayat: “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mendahului Allah dan Rasul-Nya. Takutlah kamu kepada Allah. Sesungguhnya Allah maha Mendengar dan maha Mengetahui. Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menaikkan suaramu di atas suara Nabi. janganlah kamu mengeraskan suara kamu dalam percakapan dengan dia seperti mengeraskan suara kamu ketika bercakap sesama kamu. Nanti hapus amal-amal kamu dan kamu tidak menyadarinya (al-hujurat 1-2)
Setelah mendengar teguran itu Abu Bakar berkata, “Ya Rasul Allah, demi Allah, sejak sekarang aku tidak akan berbicara denganmu kecuali seperti seorang saudara yang membisikkan rahasia.” Umar juga berbicara kepada Nabi Muhammad SAW dengan suara yang lembut. Bahkan konon kabarnya setelah peristiwa itu Umar banyak sekali bersedekah, karena takut amal yang lalu telah terhapus. Para sahabat Nabi Muhammad SAW takut akan terhapus amal mereka karena melanggar etiket berhadapan dengan Nabi Muhammad SAW.
Dalam satu kesempatan lain, ketika di Mekkah, Nabi Muhammad SAW didatangi utusan pembesar Quraisy, Utbah bin Rabi’ah. Ia berkata pada Nabi Muhammad SAW, “Wahai kemenakanku, kau datang membawa agama baru, apa yang sebetulnya kau kehendaki. Jika kau kehendaki harta, akan kami kumpulkan kekayaan kami, Jika Kau inginkan kemuliaan akan kami muliakan engkau. Jika ada sesuatu penyakit yang dideritamu, akan kami carikan obat. Jika kau inginkan kekuasaan, biar kami jadikan engkau penguasa kami”
Nabi Muhammad SAW mendengar dengan sabar uraian tokoh musyrik ini. Tidak sekalipun beliau membantah atau memotong pembicaraannya. Ketika Utbah berhenti, Nabi Muhammad SAW bertanya, “Sudah selesaikah, Ya Abal Walid?” “Sudah.” kata Utbah. Nabi membalas ucapan utbah dengan membaca surat Fushilat. Ketika sampai pada ayat sajdah, Nabi Muhammad SAW bersujud. Sementara itu Utbah duduk mendengarkan Nabi Muhammad SAW sampai menyelesaikan bacaannya.
Peristiwa ini sudah lewat ratusan tahun lalu. Kita tidak heran bagaimana Nabi Muhammad SAW dengan sabar mendengarkan pendapat dan usul Utbah, tokoh musyrik. Kita mengenal akhlak Nabi dalam menghormati pendapat orang lain. Inilah akhlak Nabi Muhammad SAW dalam majelis ilmu. Yang menakjubkan adalah perilaku kita sekarang. Bahkan oleh si Utbbah, si musyrik, kita kalah. Utbah mau mendengarkan Nabi dan menyuruh kaumnya membiarkan Nabi Muhammad SAW berbicara. Jangankan mendengarkan pendapat orang kafir, kita bahkan tidak mau mendengarkan pendapat saudara kita sesama muslim. Dalam pengajian, suara pembicara kadang-kadang tertutup suara obrolan kita. Masya Allah!
Ketika Nabi Muhammad SAW tiba di Madinah dalam episode hijrah, ada utusan kafir Mekkah yang meminta janji Nabi Muhammad SAW bahwa Nabi akan mengembalikan siapapun yang pergi ke Madinah setelah perginya Nabi. Selang beberapa waktu kemudian. Seorang sahabat rupanya tertinggal di belakang Nabi. Sahabat ini meninggalkan isterinya, anaknya dan hartanya. Dengan terengah-engah menembus padang pasir, akhirnya ia sampai di Madinah. Dengan perasaan haru ia segera menemui Nabi Muhammad SAW dan melaporkan kedatangannya. Apa jawab Nabi? “Kembalilah engkau ke Mekkah. Sungguh aku telah terikat perjanjian. Semoga Allah melindungimu.” Sahabat ini menangis keras. Bagi Nabi Muhammad SAW janji adalah suatu yang sangat agung. Meskipun Nabi Muhammad SAW merasakan bagaimana besarnya pengorbanan sahabat ini untuk berhijrah, bagi Nabi janji adalah janji; bahkan meskipun janji itu diucapkan kepada orang kafir. Bagaimana kita memandang harga suatu janji, merupakan salah satu bentuk jawaban bagaimana perilaku Nabi Muhammad SAW telah menyerap di sanubari kita atau tidak.
Dalam suatu kesempatan menjelang akhir hayatnya, Nabi Muhammad SAW berkata pada para sahabat, “Mungkin sebentar lagi Allah akan memanggilku, aku tak ingin di padang mahsyar nanti ada diantara kalian yang ingin menuntut balas karena perbuatanku pada kalian. Bila ada yang keberatan dengan perbuatanku pada kalian, ucapkanlah!” Sahabat yang lain terdiam, namun ada seorang sahabat yang tiba-tiba bangkit dan berkata, “Dahulu ketika engkau memeriksa barisan disaat ingin pergi perang, kau meluruskan posisi aku dengan tongkatmu. Aku tak tahu apakah engkau sengaja atau tidak, tapi aku ingin menuntut qishash hari ini.” Para sahabat lain terpana, tidak menyangka ada yang berani berkata seperti itu. Kabarnya Umar langsung berdiri dan siap “membereskan” orang itu. Nabi Muhammad SAW melarangnya. Nabi pun menyuruh Bilal mengambil tongkat ke rumah Nabi. Siti Aisyah yang berada di rumah Nabi Muhammad SAW keheranan ketika Nabi meminta tongkat. Setelah Bilal menjelaskan peristiwa yang terjadi, Aisyah pun semakin heran, mengapa ada sahabat yang berani berbuat senekad itu setelah semua yang Rasul berikan pada mereka.
Rasul memberikan tongkat tersebut pada sahabat itu seraya menyingkapkan bajunya, sehingga terlihatlah perut Nabi Muhammad SAW. Nabi berkata, “lakukanlah!” Detik-detik berikutnya menjadi sangat menegangkan. Tetapi terjadi suatu keanehan. Sahabat tersebut malah menciumi perut Nabi Muhammad SAW dan memeluk beliau seraya menangis, “Sungguh maksud tujuanku hanyalah untuk memelukmu dan merasakan kulitku bersentuhan dengan tubuhmu!. Aku ikhlas atas semua perilakumu wahai Rasulullah.” Seketika itu juga terdengar ucapan, “Allahu Akbar” berkali-kali. sahabat tersebut tahu, bahwa permintaan Nabi Muhammad SAW itu tidak mungkin diucapkan kalau Nabi Muhammad SAW tidak merasa bahwa ajalnya semakin dekat. Sahabat itu tahu bahwa saat perpisahan semakin dekat, ia ingin memeluk Nabi Muhammad SAW sebelum Allah memanggil Nabi.
Suatu pelajaran lagi buat kita. Menyakiti orang lain baik hati maupun badannya merupakan perbuatan yang amat tercela. Allah tidak akan memaafkan sebelum yang kita sakiti memaafkan kita. Rasul pun sangat hati-hati karena khawatir ada orang yang beliau sakiti. Khawatirkah kita bila ada orang yang kita sakiti menuntut balas nanti di padang Mahsyar di depan Hakim Yang Maha Agung ditengah miliaran umat manusia. Jangan-jangan kita menjadi orang yang muflis. Na’udzu billah…
Nabi Muhammad SAW ketika saat haji Wada’, di padang Arafah yang terik, dalam keadaan sakit, masih menyempatkan diri berpidato. Di akhir pidatonya itu Nabi Muhammad SAW dengan dibalut sorban dan tubuh yang menggigil berkata, “Nanti di hari pembalasan, kalian akan ditanya oleh Allah apa yang telah aku, sebagai Nabi, perbuat pada kalian. Jika kalian ditanya nanti, apa jawaban kalian?” Para sahabat terdiam dan mulai banyak yang meneteskan air mata. Nabi Muhamad SAW melanjutkan, “Bukankah telah kujalani hari-hari bersama kalian dengan lapar, bukankah telah kutaruh beberapa batu diperutku karena menahan lapar bersama kalian, bukankah aku telah bersabar menghadapi kejahilan kalian, bukankah telah ku sampaikan pada kalian wahyu dari Allah…?” Untuk semua pertanyaan itu, para sahabat menjawab, “benar ya Rasul!”
Rasul pun mendongakkan kepalanya ke atas, dan berkata, “Ya Allah saksikanlah…Ya Allah saksikanlah…Ya Allah saksikanlah!”. Nabi Muhammad SAW meminta kesaksian Allah bahwa Nabi Muhammad SAW telah menjalankan tugasnya.
Dalam Tulisan ini pun saya memohon kepada Allah SWT menyaksikan bahwa kita mencintai Nabi Muhammad SAW .”Ya Allah saksikanlah betapa kami mencintai Rasul-Mu, betapa kami sangat ingin bertemu dengan kekasih-Mu, betapa kami sangat ingin meniru semua perilakunya yang indah; semua budi pekertinya yang agung, betapa kami sangat ingin dibangkitkan nanti di padang Mahsyar bersama Nabi-Mu, Nabi Muhammad SAW, betapa kami sangat ingin ditempatkan di dalam surga yang sama dengan surganya Nabi kami. Ya Allah saksikanlah..Ya Allah saksikanlah.. Ya Allah saksikanlah, persaksian dari kami; umat Nabi Muhammad SAW “
Terima kasih
semoga bisa menjadi inspirasi kita semua
sumber : Ade Muhamaidi.com
Orang Badui ini mulai heran. Bukankah Umar merupakan seorang sahabat senior Nabi Muhammad SAW, begitu pula Bilal, bukankah ia merupakan sahabat setia Nabi Muhammad SAW. Mengapa mereka tak sanggup menceritakan akhlak Nabi Muhammad SAW. Dengan berharap-harap cemas, Badui ini menemui Ali. Ali dengan linangan air mata berkata, “Ceritakan padaku keindahan dunia ini!.” Badui ini menjawab, “Bagaimana mungkin aku dapat menceritakan segala keindahan dunia ini…” Ali menjawab, “Engkau tak sanggup menceritakan keindahan dunia padahal Allah telah berfirman bahwa sungguh dunia ini kecil dan hanyalah senda gurau belaka, lalu bagaimana aku dapat melukiskan akhlak Nabi Muhammad SAW, sedangkan Allah telah berfirman bahwa sungguh Muhammad memiliki budi pekerti yang agung! (QS. Al-Qalam[68]: 4)”
Badui ini lalu menemui Siti Aisyah r.a. Isteri Nabi Muhammad SAW yang sering disapa “Khumairah” oleh Nabi Muhammad SAW ini hanya menjawab, khuluquhu al-Qur’an (Akhlaknya Muhammad itu Al-Qur’an). Seakan-akan Aisyah ingin mengatakan bahwa Nabi Muhammad SAW itu bagaikan Al-Qur’an berjalan. Badui ini tidak puas, bagaimana bisa ia segera menangkap akhlak Nabi Muhammad SAW kalau ia harus melihat ke seluruh kandungan Qur’an. Aisyah akhirnya menyarankan Badui ini untuk membaca dan menyimak QS Al-Mu’minun[23]: 1-11.
Kesan Akhlak Nabi Muhammad SAW Bagi Sahabat Dan Keluarga
Bagi para sahabat, masing-masing memiliki kesan tersendiri dari pergaulannya dengan Nabi. Kalau mereka diminta menjelaskan seluruh akhlak Nabi Muhammad SAW, linangan air mata-lah jawabannya, karena mereka terkenang akan junjungan mereka. Paling-paling mereka hanya mampu menceritakan satu fragmen yang paling indah dan berkesan dalam interaksi mereka dengan Nabi terakhir ini.
Mari kita kembali ke Aisyah. Ketika ditanya, bagaimana perilaku Nabi Muhammad SAW, Aisyah hanya menjawab, “ah semua perilakunya indah.” Ketika didesak lagi, Aisyah baru bercerita saat terindah baginya, sebagai seorang isteri. “Ketika aku sudah berada di tempat tidur dan kami sudah masuk dalam selimut, dan kulit kami sudah bersentuhan, suamiku berkata, ‘Ya Aisyah, izinkan aku untuk menghadap Tuhanku terlebih dahulu.’” Apalagi yang dapat lebih membahagiakan seorang isteri, karena dalam sejumput episode tersebut terkumpul kasih sayang, kebersamaan, perhatian dan rasa hormat dari seorang suami, yang juga seorang utusan Allah.
Nabi Muhammad SAW jugalah yang membikin khawatir hati Aisyah ketika menjelang subuh Aisyah tidak mendapati suaminya disampingnya. Aisyah keluar membuka pintu rumah. terkejut ia bukan kepalang, melihat suaminya tidur di depan pintu. Aisyah berkata, “Mengapa engkau tidur di sini?” Nabi Muhammmad SAW menjawab, “Aku pulang sudah larut malam, aku khawatir mengganggu tidurmu sehingga aku tidak mengetuk pintu. itulah sebabnya aku tidur di depan pintu.” Mari berkaca di diri kita masing-masing. Bagaimana perilaku kita terhadap isteri kita? Nabi Muhammad SAW mengingatkan, “berhati-hatilah kamu terhadap isterimu, karena sungguh kamu akan ditanya di hari akhir tentangnya.” Para sahabat pada masa Nabi Muhammad SAW memperlakukan isteri mereka dengan hormat, mereka takut kalau wahyu turun dan mengecam mereka.
Buat sahabat yang lain, fragmen yang paling indah ketika sahabat tersebut terlambat datang ke Majelis Nabi Muhammad SAW. Tempat sudah penuh sesak. Ia minta izin untuk mendapat tempat, namun sahabat yang lain tak ada yang mau memberinya tempat. Di tengah kebingungannya, Rasul memanggilnya. Nabi Muhammad SAW memintanya duduk di dekatnya. Tidak cukup dengan itu, Rasul pun melipat sorbannya lalu diberikan pada sahabat tersebut untuk dijadikan alas tempat duduk. Sahabat tersebut dengan berlinangan air mata, menerima sorban tersebut namun tidak menjadikannya alas duduk akan tetapi mencium sorban Nabi Muhammad SAW.
Senangkah kita kalau orang yang kita hormati, pemimpin yang kita junjung tiba-tiba melayani kita bahkan memberikan sorbannya untuk tempat alas duduk kita. Bukankah kalau mendapat kartu lebaran dari seorang pejabat saja kita sangat bersuka cita. Begitulah akhlak Nabi Muhammad SAW, sebagai pemimpin ia ingin menyenangkan dan melayani bawahannya. Dan tengoklah diri kita. Kita adalah pemimpin, bahkan untuk lingkup paling kecil sekalipun, sudahkah kita meniru akhlak Rasul Yang Mulia.
Nabi Muhammad SAW juga terkenal suka memuji sahabatnya. Kalau kita baca kitab-kitab hadis, kita akan kebingungan menentukan siapa sahabat yang paling utama. Terhadap Abu Bakar, Rasul selalu memujinya. Abu Bakar-lah yang menemani Rasul ketika hijrah. Abu Bakarlah yang diminta menjadi Imam ketika Rasul sakit. Tentang Umar, Rasul pernah berkata, “Syetan saja takut dengan Umar, bila Umar lewat jalan yang satu, maka Syetan lewat jalan yang lain.” Dalam riwayat lain disebutkan, “Nabi Muhammad SAW bermimpi meminum susu. Belum habis satu gelas, Nabi Muhammad SAW memberikannya pada Umar yang meminumnya sampai habis. Para sahabat bertanya, Ya Rasul apa maksud (ta’wil) mimpimu itu? Rasul menjawab ilmu pengetahuan.”
Tentang Utsman, Rasul sangat menghargai Ustman karena itu Utsman menikahi dua putri Nabi Muhammad SAW, hingga Utsman dijuluki dzu an-Nurain (pemilik dua cahaya). Mengenai Ali, Rasul bukan saja menjadikannya ia menantu, tetapi banyak sekali riwayat yang menyebutkan keutamaan Ali. “Aku ini kota ilmu, dan Ali adalah pintunya.” “Barang siapa membenci Ali, maka ia merupakan orang munafik.”
Lihatlah diri kita sekarang. Bukankah jika ada seorang rekan yang punya sembilan kelebihan dan satu kekurangan, maka kita jauh lebih tertarik berjam-jam untuk membicarakan yang satu itu dan melupakan yang sembilan. Ah…ternyata kita belum suka memuji; kita masih suka mencela. Ternyata kita belum mengikuti sunnah Nabi Muhammad SAW.
Saya pernah mendengar ada seorang ulama yang mengatakan bahwa Allah pun sangat menghormati Nabi Muhammad SAW. Buktinya, dalam Al-Qur’an Allah memanggil para Nabi dengan sebutan nama: Musa, Ayyub, Zakaria, dll. tetapi ketika memanggil Nabi Muhammad SAW, Allah menyapanya dengan “Wahai Nabi”. Ternyata Allah saja sangat menghormati beliau.
Para sahabat pun ditegur oleh Allah ketika mereka berlaku tak sopan pada Nabi Muhammad SAW. Alkisah, rombongan Bani Tamim menghadap Rasul. Mereka ingin Rasul menunjuk pemimpin buat mereka. Sebelum Nabi Muhammad SAW memutuskan siapa, Abu Bakar berkata: “Angkat Al-Qa’qa bin Ma’bad sebagai pemimpin.” Kata Umar, “Tidak, angkatlah Al-Aqra’ bin Habis.” Abu Bakar berkata ke Umar, “Kamu hanya ingin membantah aku saja,” Umar menjawab, “Aku tidak bermaksud membantahmu.” Keduanya berbantahan sehingga suara mereka terdengar makin keras. Waktu itu turunlah ayat: “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mendahului Allah dan Rasul-Nya. Takutlah kamu kepada Allah. Sesungguhnya Allah maha Mendengar dan maha Mengetahui. Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menaikkan suaramu di atas suara Nabi. janganlah kamu mengeraskan suara kamu dalam percakapan dengan dia seperti mengeraskan suara kamu ketika bercakap sesama kamu. Nanti hapus amal-amal kamu dan kamu tidak menyadarinya (al-hujurat 1-2)
Setelah mendengar teguran itu Abu Bakar berkata, “Ya Rasul Allah, demi Allah, sejak sekarang aku tidak akan berbicara denganmu kecuali seperti seorang saudara yang membisikkan rahasia.” Umar juga berbicara kepada Nabi Muhammad SAW dengan suara yang lembut. Bahkan konon kabarnya setelah peristiwa itu Umar banyak sekali bersedekah, karena takut amal yang lalu telah terhapus. Para sahabat Nabi Muhammad SAW takut akan terhapus amal mereka karena melanggar etiket berhadapan dengan Nabi Muhammad SAW.
Dalam satu kesempatan lain, ketika di Mekkah, Nabi Muhammad SAW didatangi utusan pembesar Quraisy, Utbah bin Rabi’ah. Ia berkata pada Nabi Muhammad SAW, “Wahai kemenakanku, kau datang membawa agama baru, apa yang sebetulnya kau kehendaki. Jika kau kehendaki harta, akan kami kumpulkan kekayaan kami, Jika Kau inginkan kemuliaan akan kami muliakan engkau. Jika ada sesuatu penyakit yang dideritamu, akan kami carikan obat. Jika kau inginkan kekuasaan, biar kami jadikan engkau penguasa kami”
Nabi Muhammad SAW mendengar dengan sabar uraian tokoh musyrik ini. Tidak sekalipun beliau membantah atau memotong pembicaraannya. Ketika Utbah berhenti, Nabi Muhammad SAW bertanya, “Sudah selesaikah, Ya Abal Walid?” “Sudah.” kata Utbah. Nabi membalas ucapan utbah dengan membaca surat Fushilat. Ketika sampai pada ayat sajdah, Nabi Muhammad SAW bersujud. Sementara itu Utbah duduk mendengarkan Nabi Muhammad SAW sampai menyelesaikan bacaannya.
Peristiwa ini sudah lewat ratusan tahun lalu. Kita tidak heran bagaimana Nabi Muhammad SAW dengan sabar mendengarkan pendapat dan usul Utbah, tokoh musyrik. Kita mengenal akhlak Nabi dalam menghormati pendapat orang lain. Inilah akhlak Nabi Muhammad SAW dalam majelis ilmu. Yang menakjubkan adalah perilaku kita sekarang. Bahkan oleh si Utbbah, si musyrik, kita kalah. Utbah mau mendengarkan Nabi dan menyuruh kaumnya membiarkan Nabi Muhammad SAW berbicara. Jangankan mendengarkan pendapat orang kafir, kita bahkan tidak mau mendengarkan pendapat saudara kita sesama muslim. Dalam pengajian, suara pembicara kadang-kadang tertutup suara obrolan kita. Masya Allah!
Ketika Nabi Muhammad SAW tiba di Madinah dalam episode hijrah, ada utusan kafir Mekkah yang meminta janji Nabi Muhammad SAW bahwa Nabi akan mengembalikan siapapun yang pergi ke Madinah setelah perginya Nabi. Selang beberapa waktu kemudian. Seorang sahabat rupanya tertinggal di belakang Nabi. Sahabat ini meninggalkan isterinya, anaknya dan hartanya. Dengan terengah-engah menembus padang pasir, akhirnya ia sampai di Madinah. Dengan perasaan haru ia segera menemui Nabi Muhammad SAW dan melaporkan kedatangannya. Apa jawab Nabi? “Kembalilah engkau ke Mekkah. Sungguh aku telah terikat perjanjian. Semoga Allah melindungimu.” Sahabat ini menangis keras. Bagi Nabi Muhammad SAW janji adalah suatu yang sangat agung. Meskipun Nabi Muhammad SAW merasakan bagaimana besarnya pengorbanan sahabat ini untuk berhijrah, bagi Nabi janji adalah janji; bahkan meskipun janji itu diucapkan kepada orang kafir. Bagaimana kita memandang harga suatu janji, merupakan salah satu bentuk jawaban bagaimana perilaku Nabi Muhammad SAW telah menyerap di sanubari kita atau tidak.
Dalam suatu kesempatan menjelang akhir hayatnya, Nabi Muhammad SAW berkata pada para sahabat, “Mungkin sebentar lagi Allah akan memanggilku, aku tak ingin di padang mahsyar nanti ada diantara kalian yang ingin menuntut balas karena perbuatanku pada kalian. Bila ada yang keberatan dengan perbuatanku pada kalian, ucapkanlah!” Sahabat yang lain terdiam, namun ada seorang sahabat yang tiba-tiba bangkit dan berkata, “Dahulu ketika engkau memeriksa barisan disaat ingin pergi perang, kau meluruskan posisi aku dengan tongkatmu. Aku tak tahu apakah engkau sengaja atau tidak, tapi aku ingin menuntut qishash hari ini.” Para sahabat lain terpana, tidak menyangka ada yang berani berkata seperti itu. Kabarnya Umar langsung berdiri dan siap “membereskan” orang itu. Nabi Muhammad SAW melarangnya. Nabi pun menyuruh Bilal mengambil tongkat ke rumah Nabi. Siti Aisyah yang berada di rumah Nabi Muhammad SAW keheranan ketika Nabi meminta tongkat. Setelah Bilal menjelaskan peristiwa yang terjadi, Aisyah pun semakin heran, mengapa ada sahabat yang berani berbuat senekad itu setelah semua yang Rasul berikan pada mereka.
Rasul memberikan tongkat tersebut pada sahabat itu seraya menyingkapkan bajunya, sehingga terlihatlah perut Nabi Muhammad SAW. Nabi berkata, “lakukanlah!” Detik-detik berikutnya menjadi sangat menegangkan. Tetapi terjadi suatu keanehan. Sahabat tersebut malah menciumi perut Nabi Muhammad SAW dan memeluk beliau seraya menangis, “Sungguh maksud tujuanku hanyalah untuk memelukmu dan merasakan kulitku bersentuhan dengan tubuhmu!. Aku ikhlas atas semua perilakumu wahai Rasulullah.” Seketika itu juga terdengar ucapan, “Allahu Akbar” berkali-kali. sahabat tersebut tahu, bahwa permintaan Nabi Muhammad SAW itu tidak mungkin diucapkan kalau Nabi Muhammad SAW tidak merasa bahwa ajalnya semakin dekat. Sahabat itu tahu bahwa saat perpisahan semakin dekat, ia ingin memeluk Nabi Muhammad SAW sebelum Allah memanggil Nabi.
Suatu pelajaran lagi buat kita. Menyakiti orang lain baik hati maupun badannya merupakan perbuatan yang amat tercela. Allah tidak akan memaafkan sebelum yang kita sakiti memaafkan kita. Rasul pun sangat hati-hati karena khawatir ada orang yang beliau sakiti. Khawatirkah kita bila ada orang yang kita sakiti menuntut balas nanti di padang Mahsyar di depan Hakim Yang Maha Agung ditengah miliaran umat manusia. Jangan-jangan kita menjadi orang yang muflis. Na’udzu billah…
Nabi Muhammad SAW ketika saat haji Wada’, di padang Arafah yang terik, dalam keadaan sakit, masih menyempatkan diri berpidato. Di akhir pidatonya itu Nabi Muhammad SAW dengan dibalut sorban dan tubuh yang menggigil berkata, “Nanti di hari pembalasan, kalian akan ditanya oleh Allah apa yang telah aku, sebagai Nabi, perbuat pada kalian. Jika kalian ditanya nanti, apa jawaban kalian?” Para sahabat terdiam dan mulai banyak yang meneteskan air mata. Nabi Muhamad SAW melanjutkan, “Bukankah telah kujalani hari-hari bersama kalian dengan lapar, bukankah telah kutaruh beberapa batu diperutku karena menahan lapar bersama kalian, bukankah aku telah bersabar menghadapi kejahilan kalian, bukankah telah ku sampaikan pada kalian wahyu dari Allah…?” Untuk semua pertanyaan itu, para sahabat menjawab, “benar ya Rasul!”
Rasul pun mendongakkan kepalanya ke atas, dan berkata, “Ya Allah saksikanlah…Ya Allah saksikanlah…Ya Allah saksikanlah!”. Nabi Muhammad SAW meminta kesaksian Allah bahwa Nabi Muhammad SAW telah menjalankan tugasnya.
Dalam Tulisan ini pun saya memohon kepada Allah SWT menyaksikan bahwa kita mencintai Nabi Muhammad SAW .”Ya Allah saksikanlah betapa kami mencintai Rasul-Mu, betapa kami sangat ingin bertemu dengan kekasih-Mu, betapa kami sangat ingin meniru semua perilakunya yang indah; semua budi pekertinya yang agung, betapa kami sangat ingin dibangkitkan nanti di padang Mahsyar bersama Nabi-Mu, Nabi Muhammad SAW, betapa kami sangat ingin ditempatkan di dalam surga yang sama dengan surganya Nabi kami. Ya Allah saksikanlah..Ya Allah saksikanlah.. Ya Allah saksikanlah, persaksian dari kami; umat Nabi Muhammad SAW “
Terima kasih
semoga bisa menjadi inspirasi kita semua
sumber : Ade Muhamaidi.com
Kamis, 17 Mei 2012
KALA YUSUF MANSYUR MENCARI TUHAN YANG HILANG
Kala Yusuf Mansyur Mencari Tuhan yang Hilang
“Ketika mereka melupakan apa-apa yang Kami peringatkan kepada
mereka, justru Kami bukakan pintu segala kesempatan buat mereka. Maka
kemudian ketika mereka merasa senang, merasa gembira, dengan
keberhasilan, kesuksesan mereka, tiba-tiba Kami siksa mereka dengan
sekonyong-konyong, jadilah mereka terdiam berputus asa.” (Al An’am: 44)Itulah ayat yang tercetak di sampul belakang buku Mencari Tuhan yang Hilang karya Ustadz muda Yusuf Mansyur. Dimana 35 kisah perjalanan spiritual pimpinan Pondok Pesantren Daarul Quran Bula Santri, Cipondoh, Tangerang dan pimpinan pengajian Wisata Hati ini dalam menepis azab dan menuai rahmat di dalamnya, akan membuat Anda terhenyak, terharu, tercenung.
Untuk kemudian merenung.
Bahwa kita, bisa jadi termasuk salah satu hambaNya yang lalai.
***
Lalai bisa dimulai dari hal-hal kecil.
Bisa dimulai dari menunda-nunda waktu beribadah, hanya karena sedang menjalani rapat atau wawancara kerja. Bisa juga berarti tak bersyukur atas semua nikmatNya yang telah diterima. Bisa pula berarti tak usai berkeluh kesah atas semua derita. Dan bisa pula, tak bercermin atas semua laku perbuatan yang buruk rupa.
Lalai-lalai kecil inipun menggunung. Membawa banyak dampak tak sedap yang disebut-sebut sebagai neraka dunia. Mulai dari putus kerja, sakit yang tak kunjung pulih, belitan hutang, sulit mendapatkan jodoh, ketidakharmonisan rumah tangga, dan setumpuk masalah lainnya.
Secuil neraka dunia inilah yang sempat dicecap oleh seorang Yusuf Mansyur.
***
19 Desember tiga puluh dua tahun yang lalu, Yusuf Mansyur terlahir dari pasangan Abdurrahman Mimbar dan Humrif’ah. Dibesarkan dalam keluarga Betawi yang berkecukupan, Yusuf tumbuh menjadi sosok yang cerdas, namun juga pembangkang. Lulusan terbaik Madrasah Aliyah Negeri 1 Grogol, Jakarta Barat, tahun 1992 ini pernah kuliah di jurusan Informatika namun berhenti tengah jalan karena lebih suka balapan motor. ”Semua hal saya lakukan dengan pertimbangan yang konyol; ’bagaimana nanti saja’ atau ’yang penting selamat dulu’ , arogan dan tanpa perhitungan. Tidak pernah saya berpikir apakah yang saya lakukan itu bertentangan dengan hati, melanggar hukum, moral atau tidak,” (hal 1).
Pada tahun 1996, Yusuf terjun di bisnis Informatika. Sayang bisnisnya malah menyebabkan ia terlilit utang berjumlah miliaran. Gara-gara utang itu pula, Ustadz Yusuf merasakan dinginnya hotel prodeo selama 2 bulan. Setelah bebas, Ustadz Yusuf kembali mencoba berbisnis tapi kembali gagal dan terlilit utang lagi. Cara hidup yang keliru membawa Ustadz Yusuf kembali masuk bui pada tahun 1998. ”Di hari kebebasan saya, 25 Juni 1999, abang saya berkata keras kepada saya bahwa sudah saatnya saya melakukan pertaubatan yang serius. Meski hanya sempat menjadi penghuni tahanan tingkat polisi sektor, di mata abang saya hal itu sudah sangat memprihatinkan. Cukup memalukan. Saya dilahirkan dalam keluarga kyai. Saya dibesarkan dengan pendidikan agama yang tidak kurang-kurangnya, plus pengawasan yang lumayan ketat. Tapi kok ya sempat ditahan. Dua kali lagi!
Nah, pada kali kedua inilah abang saya tidak bisa lagi mentolerir. Dia menganggap, bila kali ketiga kemudian terjadi, maka saat itulah riwayat saya akan berakhir.
Saya sempat ragu. Bagaimana mungkin saya bertaubat dengan sebenar-benarnya taubat, berhenti dari kegiatan-kegiatan kejahatan, merekayasa sesuatu, mencari korban-korban baru, merampok mereka secara halus, sementara banyak hal yang masih harus saya selesaikan. Dan di benak saya hingga saat itu, bahwa tidak mungkin masalah saya selesai kecuali dengan melakukan kejahatan yang lebih besar lagi, yang mana saya hasilnya saya harap bisa menutup semua keburukan saya, untuk kemudian baru berhenti total.
Pikiran-pikiran seperti itulah yang juga terus mendorong saya berbuat keburukan dan aniaya. Tapi yang sesungguhnya terjadi, justru mengantar saya kepada keterpurukan yang luar biasa. Masalah saya semakin besar.” (hal 2-3).
Namun malam itu sekaligus menjadi malam yang istimewa bagi seorang Yusuf Mansyur. ”Malam itu, tanpa sengaja, saya membuka lembaran Al Quran. Mata saya tertumbuk pada ayat 1 sampai dengan ayat 6 surat At Taubah. Saya mengambil poin-poin penting. Ada kata-kata kunci yang membuat saya jadi tertunduk dan menangis sejadi-jadinya. Yaitu, kebebasan; pelepasan dari kemusyrikan yang tidak saya sadari; statement Allah bahwa bertaubat itu lebih baik; memenuhi perjanjian; dari sifat Allah, Ghafur dan Rahim.
Terus, ayat 3-nya, seolah juga tahu bahwa saya ragu untuk bertaubat gaya abang saya, dengan menyatakan: ’Apapun kejadiannya, berhenti total dari semua kejahatan dan perilaku buruk itu adalah lebih baik.’ Kemudian ayat 2-nya, memberi satu isyarat bahwa saya harus berjalan dulu selama 4 bulan (dalam proses pertaubatan).” (hal 4-5)
Seketika, pecahlah tangis Yusuf.
”Air mata saya mengalir deras. Di tengah kezaliman yang saya lakukan, di tengah kedurhakaan dan kemaksiatan yang saya perbuat, Ia, yang Maha Suci, masih sudi ’menengok’ ciptaanNya ini. Dia memberi motivasi, di tengah keputusasaan. Dia juga menemani saya di tengah kesendirian. Dan bahkan di kemudian hari, Dia pun menegur saya secara halus di tengah kelalaian dan kesalahan-kesalahan saya yang baru.” (hal 4)
Malam itu sekaligus menjadi malam yang istimewa bagi seorang Yusuf Mansyur. Karena ”malam itu, saya ’berbicara’ dengan Tuhan.” (hal 4).
***
”Dia tidak hilang
dan tidak menghilang
Dia selalu menunggu
selalu mengulurkan tanganNya
hati yang kotor inilah yang menghalangi melihatNya,” (hal 4)
Itulah rintihan lirih Yusuf dalam kesendiriannya, yang kemudian mengawali 35 perjalanan spiritualnya dalam buku ini. Dimana Yusuf memilih menggunakan nama Luqman Hakim. ”Tokoh Luqman Hakim dalam buku ini bukanlah Luqman Hakim yang diabadikan oleh Allah dalam ayat-ayat Al Quran, sosok tokoh yang saya ciptakan sendiri, sebagai media penuturan saya.” (hal 7)
Perjalanan Luqman Hakim pun dimulai.
***
Dalam dua bab pertama berjudul Tersadarkan (1) dan Tersadarkan (2), Yusuf menuliskan tentang sosok Luqman yang bermimpi didatangi oleh saudara misan dan bundanya yang menuding pertaubatan Luqman sebagai pertaubatan semua. Luqman juga bermimpi dikejar-kejar bak buronan. Yusuf juga menuliskan tentang pengalaman Luqman ketika dua kali dipenjara. ”Pada saat dipenjara yang pertama, Luqman masih mengandalkan tiga hal; kemampuan negosiasi, kekuatan uang, dan sedikit sentuhan kekuasaan dunia (mencari dukungan aparat yang lebih tinggi wewenang dan kekuasaannya.
Di penjaranya yang kedua, Luqman tidak bisa lagi mendapatkan sentuhan tiga hal di atas. Ia sudah tak punya apa-apa dan sudah tak bisa melakukan apa-apa. Bahkan keputusasaan hampir merenggut nyawanya.
Rupanya disinilah perbedaan terletak. Di saat ketidakberdayaannya, ia mendatangi Allah. Di saat kemustahilan membayangi, ia mendatangi Allah. Hasilnya, Luqman malah mendapatkan kebebasan lebih cepat dari yang pertama, yaitu hanya 14 hari masa tahanan.
Menurut hitungan matematis dan rasio manusia, tidak mungkin Luqman dapat mengeluarkan dirinya dari kurungan sel. Kasusnya terlalu berat untuk diselesaikan. Apalagi ketiadaan pihak keluarga dan pihak-pihak yang dapat membantu. Bahkan kemungkinan ia akan dipindahkan ke Lembaga Pemasyarakatan yang lebih berat lagi. Habislah eiwayatnya! Itulah vonis orang atas dirinya.
Ternyata Allah berkehendak lain. Dia menghembuskan sifat Rahman dan RahimNya pada mereka yang berurusan dengan Luqman. Ada banyak keajaiban terjadi. Tanpa kekuatan uang, tanpa kekuatan diplomasi dan negosiasi, kasus Luqman tidak dilanjutkan. ” (hal 28-29)
Disinilah Luqman belajar untuk pasrah dan berbaik sangka pada Allah. Ia juga belajar untuk selalu melibatkan Allah dalam setiap kesulitannya. Saat sakit misalnya. Sebelum ke dokter, ia akan lapor dulu pada Allah—bahwa dirinya sakit dan butuh pertolonganNya. Baru kemudian, berikhtiar dalam upaya mencari kesembuhan. Dengan demikian, Allah pun akan senantiasa menemani perjalanan ikhtiar.
Upaya ikhtiar ini sendiri hendaknya dilakukan kala muhasabah di waktu malam dalam kondisi suci. Bila perlu, sujudlah. ”Luqman sendiri punya kebiasaan; ketika kegelisahan terasa, ketika kesusahan mendera, cepat ia mengambil wudlu dan menggelar sajadah, lalu shalat hajat dua rakaat. Kadang, ia lengkapi munajatnya dengan membaca surah Yasin,” (hal 31).
***
Selepas dari penjara, bermodalkan uang Rp 15 ribu, Yusuf berjualan es di terminal Kali Deres. Malang dikata, tak satupun jualannya laku. Agar esnya awet, ia terpaksa meminjam uang Rp 1500 untuk membeli es batu. Keesokan harinya, Yusuf memberikan lima bungkus es secara cuma-cuma pada pengemis. Subhanallah, setelah itu, semua esnya ludes.
Dari sanalah, suami dari Siti Maemunah ini belajar bahwa sedekah hendaknya dilakukan di awal. Seperti yang dituturkan tokoh Ustadz Basuni pada Luqman dalam buku ini. ”Di sinilah letak pengorbanan yang Allah tunggu. Memang saat mereka bilang nggak ada uang buat sedekah, memang benar demikian adanya. Tapi andai mereka sedikit mau berpikir, dan melihat ke diri mereka, pasti ada jalan untuk bersedekah. Misalkan, masih punya hp yang bagus dan bermerk. Bila ini yang terjadi, jual hpnya dan beli yang murahan. Selisih inilah yang kita keluarkan untuk sedekah. Intip-intip aset kita, ada gak yang bisa dikecilin untuk kemudian kita jadikan modal sedekah. Entah itu aset emas, TV, perabotan rumah tangga, alat elektronik. Cari sesuatu yang bisa membuat kita bersedekah di saat sulit,” (hal 224-225).
Adapun sedekah itu akan mengundang datangnya rezeki, menyembuhkan penyakit, menghilangkan kesulitan, menghalau musibah, dan memperpanjang umur (hal 226). Berkat sedekah, bisnis Yusuf pun berkembang. Tak lagi berjualan dengan termos, tapi memakai gerobak, Ia juga mulai punya anak buah.
Subhanallah.
***
Hidup Yusuf berubah saat ia berkenalan dengan polisi yang memperkenalkannya dengan LSM. Selama kerja di LSM itulah, Ustadz Yusuf membuat buku ini. Tak dinyana, buku ini mendapat sambutan luar biasa. Yusuf sering diundang untuk bedah buku tersebut. Dari sini, undangan untuk berceramah mulai menghampirinya. Di banyak ceramahnya, ia selalu menekankan makna di balik sedekah dengan memberi contoh-contoh kisah dalam kehidupan nyata. ”Contohnya saja tentang seorang perempuan berusia 37 tahun yang tidak kunjung dapat jodoh. Setelah balik dari berkonsultasi dengan kami dia langsung mampir ke masjid terdekat dan menanyakan apa yang bisa disumbangkan. Kebetulan masjid tersebut perlu donatur untuk lantai yang sedang di lelang. Permeternya 150 ribu. Si perempuan yang sudah 37 tahun belum punya jodoh itu bersedekah 600 ribu atau empat meter lantai. Subhanallah, dalam seminggu setelah itu, ada empat orang yang melamar dia,” papar Yusuf.
Karier Yusuf makin mengkilap setelah bertemu dengan Yusuf Ibrahim, Produser dari label PT Virgo Ramayana Record dengan meluncurkan kaset Tausiah Kun Faya Kun, The Power of Giving dan Keluarga. Konsep sedekah juga membawanya masuk dunia seni peran. Melalui acara Maha Kasih yang digarap Wisata Hati bersama SinemArt. Tak hanya itu, Yusuf juga menggarap sebuah film berjudul KUN FA YAKUUN yang dibintanginya bersama Zaskia Adya Mecca, Agus Kuncoro, dan Desy Ratnasari.
Yusuf juga menggagas Program Pembibitan Penghafal Al Quran (PPPA), sebuah program unggulan dan menjadi laboratorium sedekah bagi seluruh keluarga besar Wisatahati. Donasi dari PPPA digunakan untuk mencetak penghafal Alquran melalui pendidikan gratis bagi dhuafa Pondok Pesantren Daarul Quran Wisatahati. Meski tak sempat menuntaskan kuliah, Ustadz Yusuf bersama dua temannya mendirikan perguruan tinggi Sekolah Tinggi Ilmu Komputer Cipta Karya Informatika.
Sementara itu, sosok Luqman Hakim tengah tersenyum lepas di halaman 343. ”Lepas sudah beban yang terbebani di pundaknya. Sebab, ia pasrahkan segenap permasalahannya kepada Allah Azza wa Jalla… Ia menekankan, Allah menjamin semua urusan akan diselesaikanNya asal ia mau memelihara dirinya, pasrah dan beribadah kepadaNya dengan baik,” (hal 343).
(Kutipan dalam tulisan ini dikutip dari buku Mencari Tuhan yang Hilang, 35 Kisah Perjalanan Spiritual Menepis Azab dan Menuai Rahmat, seri Refleksi Wisatahati. Penulis Yusuf Mansyur, Penerbit Dzikrul Hakim, Cetakan Ke-6, 346 halaman).
terima kasih
semoga bisa jadi inspirasi..
sumber : Suara Dakwah Indonesia on 2 Maret 2012 in KISAH INSPIRING
Langganan:
Postingan (Atom)
